Berita Nasional
Kombes Norul Raih Hoegeng Awards, Pesan Orang Tua Jadi Senjata Lawan Pungli

“Kalau ada perintah pimpinan yang salah, dia wajib menolak.”
Pesan tegas Kombes Pol Norul Hidayat setelah meraih Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Berintegritas.
Baginya, polisi adalah penegak kebenaran. Kewenangan bukan untuk disalahgunakan, seragam bukan alasan untuk bertindak sewenang-wenang.
Integritas diuji ketika seseorang berani memilih yang benar, meski pilihan itu tidak mudah.
BERITA PATROLI — JAKARTA
Di balik penghargaan Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Berintegritas yang diraih Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Bangka Belitung, Kombes Pol Norul Hidayat, tersimpan kisah keluarga yang menggambarkan kerasnya pengabdian seorang anggota Polri.
Ironisnya, meski sang ayah puluhan tahun mengabdikan diri sebagai polisi, tidak satu pun dari tiga anak Norul yang tertarik mengikuti jejaknya.
Bukan karena mereka tidak bangga kepada sang ayah. Sebaliknya, keputusan itu lahir karena ketiganya menyaksikan sendiri bagaimana beratnya kehidupan seorang polisi dan besarnya pengorbanan yang harus ditanggung keluarga.
Norul mengungkapkan, ketiga anaknya pernah merasakan langsung bagaimana tugas kepolisian membuat waktu bersama keluarga menjadi sangat terbatas, terutama ketika dirinya harus bertugas di daerah konflik.
“Ketiga anak saya tidak ada yang mau menjadi polisi,” kata Norul, Selasa (11/8/2026).
Pengalaman paling membekas terjadi ketika Norul bertugas di daerah konflik. Ia bahkan hanya memiliki kesempatan pulang dalam waktu singkat sebelum kembali menjalankan tugas.
“Mereka pernah hidup bersama saya ketika saya bertugas di daerah konflik. Mereka melihat saya pulang hanya untuk numpang mandi dan mengganti pakaian,” ujarnya.
Bagi anak-anaknya, gambaran tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa menjadi polisi bukanlah pekerjaan biasa. Ada risiko, tekanan, waktu yang hilang bersama keluarga, bahkan kemungkinan harus menempatkan kepentingan tugas di atas kepentingan pribadi.
“Mereka berpikir, wah, berat jadi polisi. Makanya sekarang mereka tidak mau menjadi polisi,” tutur Norul.
Yang membuat kisah itu semakin menyentuh, ketiga anak Norul juga melihat dari dekat pengorbanan sang ibu sebagai istri anggota Polri.
Mereka menyaksikan bagaimana keluarga harus menerima konsekuensi dari tugas sang ayah.
“Mereka kasihan kepada ibu, kasihan kepada istri, dan kasihan kepada anak-anaknya. Ketiganya justru masuk pesantren,” ungkapnya.
Namun, meski anak-anaknya memilih jalan hidup berbeda, Norul tetap memegang teguh prinsip yang ditanamkan orang tuanya sejak awal dirinya menjadi polisi.
Prinsip itu sederhana, tetapi bagi Norul menjadi kompas moral sepanjang kariernya.
“Nak, kalau kamu jadi polisi, jangan pungli, jangan suka mukul.”
Bagi Norul, seragam kepolisian bukanlah tiket untuk mendapatkan kewenangan tanpa batas. Justru kewenangan tersebut harus dijalankan dengan tanggung jawab dan integritas.
Ia mengakui, menjaga integritas bukan perkara mudah.
“Integritas itu mahal. Tidak banyak orang yang bisa menjalankannya. Kalau berbicara integritas, mengucapkannya mudah, tetapi menjalankannya tidak mudah,” tegasnya.
Komitmen tersebut kemudian ia terapkan ketika dipercaya memimpin SPN Polda Bangka Belitung sejak Desember 2023.
Salah satu keputusan paling berat yang diambilnya adalah menghapus praktik pungutan liar (pungli) di lingkungan SPN.
Norul menyadari, menghapus pungli tidak cukup hanya dengan mengeluarkan larangan. Harus ada solusi agar kebutuhan personel tetap dapat dipenuhi tanpa mengandalkan praktik yang bertentangan dengan aturan.
Ia kemudian mendorong pengembangan sektor pertanian dan peternakan di lingkungan SPN.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun kemandirian sekaligus membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Ketika saya akan menghapus pungli, saya harus bisa menggantikan kesejahteraan itu dengan cara yang baik,” ujarnya.
Pertanian dan peternakan dikembangkan secara terpadu. Pakan ternak diolah sendiri, sementara limbah peternakan dapat dimanfaatkan kembali untuk kegiatan pertanian.
Prinsipnya sederhana: memenuhi kebutuhan dengan cara yang halal dan tidak melanggar hukum.
“Yang penting halal. Untuk makan sehari-hari saya rasa sudah cukup,” katanya.
Bagi Norul, integritas juga membutuhkan keberanian. Seorang anggota Polri tidak boleh hanya patuh secara membabi buta terhadap setiap perintah.
Menurutnya, ketika sebuah perintah bertentangan dengan kebenaran dan aturan, anggota Polri harus memiliki keberanian untuk menolaknya.
“Polisi adalah penegak kebenaran. Kalau ada perintah pimpinan yang salah, dia wajib menolak,” tegas Norul.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan penting dari sosok yang kini menerima Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Berintegritas.
Penghargaan itu pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah trofi atau predikat.
Di baliknya ada cerita tentang seorang polisi yang harus rela kehilangan banyak waktu bersama keluarga, seorang istri yang ikut menanggung beratnya konsekuensi tugas, serta tiga anak yang justru memilih tidak menjadi polisi karena mereka tahu persis betapa mahal harga sebuah pengabdian di balik seragam cokelat itu.
Dan mungkin di situlah makna integritas Norul, ‘tetap memilih jalan yang benar ketika jalan tersebut jauh lebih sulit, bahkan ketika tidak ada yang melihat’.
(Tomy)




You must be logged in to post a comment Login