Connect with us

Berita Patroli

Berita Patroli

Berita Nasional

Bendera Bulan Bintang Diturunkan Berujung Maut di Pidie Aceh, TNI AD dan Warga Punya Versi Berbeda

Penurunan Bendera Bulan Bintang yang seharusnya dapat diselesaikan melalui komunikasi justru berujung bentrokan dan korban jiwa. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa setiap tindakan pengamanan harus mengedepankan prosedur, profesionalitas, dan perlindungan terhadap keselamatan masyarakat.

Penurunan Bendera Bulan Bintang yang seharusnya dapat diselesaikan melalui komunikasi justru berujung bentrokan dan korban jiwa. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa setiap tindakan pengamanan harus mengedepankan prosedur, profesionalitas, dan perlindungan terhadap keselamatan masyarakat.

BERITA PATROLI – ACEH

Insiden penurunan Bendera Bulan Bintang saat peringatan Maulid Nabi di Kabupaten Pidie, Aceh, berujung tragis. Satu warga dilaporkan meninggal dunia dan 13 lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa tersebut kini menjadi perhatian publik setelah muncul perbedaan keterangan antara pihak TNI Angkatan Darat (AD) dan warga yang berada di lokasi kejadian.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigjen Donny Pramono, mengungkapkan bahwa insiden bermula ketika personel TNI-Polri berkomunikasi dengan panitia penyelenggara agar Bendera Bulan Bintang tidak dikibarkan. Namun, upaya mediasi tersebut tidak mencapai kesepakatan karena panitia tetap ingin mengibarkan bendera tersebut.

Menurut Donny, kegiatan Maulid Nabi yang semula direncanakan di Desa Udeung Poroh kemudian dipindahkan ke Makam Abdullah Syafi’i, Cubo, Bandar Baru, Pidie Jaya.

Ketegangan meningkat saat aparat melakukan penertiban di Desa Pulo Keunari. Donny mengklaim personel TNI mendapat perlawanan berupa lemparan batu dan kayu. Bahkan, sejumlah orang disebut membawa senjata tajam.

Aparat kemudian berupaya membubarkan massa menggunakan perlengkapan pengendalian huru-hara. Namun, situasi disebut semakin tidak terkendali hingga keselamatan personel terancam.

TNI AD mengaku meningkatkan pengamanan secara bertahap, mulai dari tembakan peringatan menggunakan amunisi hampa hingga amunisi karet.

“Setelah massa membubarkan diri, personel TNI menurunkan Bendera Bulan Bintang di lokasi kegiatan,” jelas Donny dalam keterangan, Kamis (5/11).

Dampak dari insiden tersebut cukup serius. Sebanyak 14 warga menjadi korban, satu orang meninggal dunia dan 13 lainnya mengalami luka-luka. Korban meninggal bernama Abzalul Riza, warga Desa Dayah Gampong Baro, Kecamatan Tiro, Pidie. Jenazah korban telah dimakamkan pada Kamis (5/11) dini hari.

TNI AD menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya warga dalam peristiwa tersebut.

Namun, keterangan berbeda disampaikan Imran, warga Pulo Keunari yang berada di lokasi kejadian. Ia menyebut warga awalnya menghadang personel TNI yang hendak menurunkan Bendera Bulan Bintang agar aparat tidak masuk ke pekarangan musala.

Imran juga membantah bahwa tembakan hanya diarahkan ke atas sebagai peringatan. Menurut kesaksiannya, tembakan justru diarahkan ke kerumunan warga yang menghadang aparat.

“Cukup jelas tembakan itu diarahkan ke kami. Ada banyak korban luka-luka akibat kena tembak dan ada yang meninggal,” ungkap Imran.

Perbedaan keterangan ini menyisakan sejumlah pertanyaan serius, terutama terkait kronologi penggunaan senjata dan penyebab jatuhnya korban jiwa.

Terlepas dari klaim masing-masing pihak, jatuhnya korban meninggal dunia dan belasan warga terluka tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa. Pengungkapan fakta secara transparan, objektif, dan menyeluruh menjadi penting agar seluruh peristiwa dapat dipertanggungjawabkan serta tidak menimbulkan polemik berkepanjangan di tengah masyarakat.

(TOMY)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Berita Nasional

To Top