Hukum dan Kriminal
Bendahara dan Operator Lapangan Kartel Narkoba Fredy Pratama Tertangkap di Malaysia, Pelarian 2 Tahun Berakhir

Frans Antoni, bendahara sekaligus pengendali operasional jaringan narkoba internasional Fredy Pratama, berhasil ditangkap di Malaysia setelah bertahun-tahun kabur lintas negara.
Dari Thailand hingga Kuala Lumpur, pelarian panjangnya akhirnya berakhir.
BERITA PATROLI – JAKARTA
Upaya pelarian panjang salah satu orang paling berpengaruh dalam jaringan narkoba internasional Fredy Pratama akhirnya berakhir. Bareskrim Polri berhasil menangkap Frans Antoni, sosok yang disebut sebagai bendahara, pengendali keuangan, sekaligus operator lapangan sindikat narkotika terbesar yang selama ini memasok narkoba ke Indonesia.
Penangkapan Frans menjadi pukulan telak bagi jaringan Fredy Pratama yang selama bertahun-tahun dikenal licin dan sulit disentuh aparat penegak hukum.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, mengungkapkan bahwa sebelum ditangkap, Frans sempat melarikan diri dan berpindah-pindah lokasi di Thailand dengan bantuan jaringan Fredy Pratama.
“Frans Antoni sempat berpindah-pindah tempat mulai dari daerah Phatthanakan hingga akhirnya menetap kurang lebih selama dua tahun di daerah Narasiri, Thailand,” kata Eko, Jumat (19/6).
Tak hanya bersembunyi di Thailand, Frans juga diduga masuk ke Malaysia secara ilegal dengan bantuan orang suruhan Fredy. Namun pelariannya akhirnya kandas setelah tim delegasi Polri berhasil melacak dan menangkapnya di Kuala Lumpur.
Menurut Bareskrim, Frans bukan sekadar kaki tangan biasa. Ia merupakan figur sentral yang mengendalikan aliran uang, operasional lapangan, hingga aktivitas jaringan narkotika internasional yang dipimpin Fredy Pratama.
“Frans Antoni bukanlah pelaku biasa, melainkan pengendali keuangan, pengendali lapangan, dan pengendali operasional dari sindikat narkotika pimpinan Fredy Pratama,” tegas Eko.
Meski tangan kanan Fredy telah berhasil diringkus, perburuan terhadap sang gembong narkoba masih terus berlangsung. Fredy Pratama yang memiliki sejumlah alias, di antaranya Miming dan Cassanova, hingga kini masih berstatus buron dan diduga bersembunyi di luar negeri.
Nama Fredy sendiri telah lama menjadi momok dalam peredaran narkotika di Asia Tenggara. Ia disebut memiliki jaringan kuat di kawasan Golden Triangle, wilayah yang dikenal sebagai salah satu pusat produksi dan perdagangan narkoba terbesar di dunia.
Besarnya kekuatan jaringan Fredy terlihat dari hasil pengungkapan aparat selama beberapa tahun terakhir. Sepanjang 2020 hingga 2023, Bareskrim Polri berhasil menyita sedikitnya 10,2 ton sabu yang terafiliasi dengan sindikat Fredy Pratama.
Bahkan, hasil analisis Direktorat Tindak Pidana Narkoba menunjukkan mayoritas peredaran sabu dan ekstasi yang masuk ke Indonesia memiliki keterkaitan dengan jaringan tersebut. Setiap bulan, sindikat ini diduga mampu menyelundupkan antara 100 hingga 500 kilogram sabu dan ekstasi, dengan modus menyamarkan barang haram itu ke dalam kemasan teh untuk mengelabui petugas.
Tertangkapnya Frans Antoni menjadi bukti bahwa lingkaran dalam kartel Fredy Pratama mulai terkuak. Namun satu target utama masih diburu aparat: Fredy Pratama, sang gembong narkoba internasional yang hingga kini masih bebas berkeliaran di luar negeri.
(Tomy)















You must be logged in to post a comment Login