Budaya dan Sosial
Sejarah Yang Hampir Terlupakan: Di Usia Seperempat Abad Kota Batu Dan Terkuak Cita-cita Luhur Sosok H. MASHURI ABDUL ROCHIM di TPU Tumpang Kabupaten Malang

Almarhum H. Mashuri Abdul Rochim, S.H., M.M., Ketua DPRD Kota Batu pertama definitif sekaligus salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah lahirnya Kota Batu sebagai daerah otonom.
BERITA PATROLI – MALANG
Menjelang Hari Jadi ke-25 Pemkot Batu yang jatuh pada 17 Oktober 2026, tepat seperempat abad usia Pemkot Batu sebagai kota otonom, Pemerintah Kota Batu menggelar tradisi ziarah ke makam para pejuang berdirinya Kotatif Batu yang kini telah menjadi Pemkot Batu.
Makam-makam tersebut tersebar di wilayah Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu, Kediri, dan Jombang. Salah satu tim ziarah pada Kamis, 15 Oktober 2026, dipimpin Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Batu, Drs. Arief As Siddiq, M.H., diikuti oleh pejabat dari Dinas Perhubungan dan Dinas Perizinan Kota Batu.
Tujuan ziarah adalah makam almarhum H. Mashuri Abdul Rochim, S.H., M.M., di TPU Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Prosesi diawali dengan doa bersama dan tabur bunga di pusara tokoh yang dikenal sebagai Ketua DPRD Kota Batu pertama dan Ketua DPD Golkar pertama Kota Batu. Usai ziarah, rombongan penziarah disambut hangat oleh keluarga almarhum, yang dilanjutkan dengan ramah tamah di kediaman keluarga bersama adik kandung almarhum, Muji Leksono, S.H., M.M.
Sejarah Panjang: Dari Kecamatan Menjadi Kotatif Batu, Lalu Menjadi Pemkot Batu
Untuk memahami perjuangan H. Mashuri, kita harus menengok sejarah awal lahirnya kota ini.
Awalnya, Batu hanyalah sebuah kecamatan biasa di wilayah Kabupaten Malang yang terkenal dengan hasil pertanian apel. Namun, potensi ekonomi, pariwisata, dan luas wilayah yang semakin berkembang membuat keinginan kuat dari tokoh masyarakat, ulama, dan pemuda Batu untuk memiliki pemerintahan sendiri yang lebih dekat dengan rakyat.
Muncullah keinginan kuat untuk memisahkan diri. Dibentuklah Kelompok Kerja (Pokja) dan Presidium Perjuangan Peningkatan Status Kecamatan Batu. Pokja inilah yang bekerja siang malam, melakukan lobi ke Kabupaten Malang, ke Provinsi Jawa Timur, hingga ke Pemerintah Pusat di Jakarta.
Perjuangan yang memakan waktu hampir 6 tahun itu akhirnya berhasil. Pada tanggal 6 Maret 1993, melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 12 Tahun 1993, Kecamatan Batu resmi ditingkatkan statusnya menjadi Kota Administratif (Kotatif) Batu. Kotatif Batu terdiri dari 3 kecamatan: Kecamatan Batu sebagai wilayah pusat, Kecamatan Bumiaji di wilayah utara, dan Kecamatan Junrejo di wilayah selatan.
Sebagai Kotatif, Batu memiliki otonomi terbatas. Pada masa Kotatif Batu, pemerintahan dipimpin oleh Wali Kotatif secara berturut-turut: Drs. Chusnul Arifien Damuri, Drs. Gatot Bambang Santoso, dan Drs. Imam Kabul.
Namun, semangat para pejuang tidak berhenti di Kotatif. Keinginan untuk menjadi kota otonom penuh yang mandiri semakin membara. Pokja kembali bergerak.
Setelah hampir 8 tahun berstatus sebagai Kotatif Batu, perjuangan itu akhirnya mencapai puncaknya. Pada tanggal 30 Juni 2001, melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Batu, Kotatif Batu resmi berganti menjadi Pemkot Batu. Batu resmi menjadi Pemerintah Kota yang otonom. Peresmian dilakukan pada 17 Oktober 2001, yang kemudian diperingati sebagai Hari Jadi Kota Batu. Maka, 17 Oktober 2026 adalah HUT ke-25 Pemkot Batu.
Peran Kunci Saat Masih Kotatif: Anggota DPRD Kabupaten Malang yang Menjadi Curhatan Pokja
Di masa inilah peran H. Mashuri Abdul Rochim sangat vital, namun jarang tercatat di buku resmi.

Tim ziarah Pemerintah Kota Batu menggelar doa bersama di makam almarhum H. Mashuri Abdul Rochim, S.H., M.M., di TPU Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Kamis (15/10/2026). Almarhum dikenal sebagai salah satu tokoh sentral dalam perjuangan berdirinya Kotatif Batu hingga menjadi Kota Batu yang otonom.
Saat Batu masih berstatus Kotatif Batu, Mashuri saat itu menjadi anggota DPRD Kabupaten Malang. Ia menjadi curhatan dan teman diskusi utama bagi Pokja Pembentukan Kota Batu.
Tidak hanya itu, dia yang menjadi jembatan antara Pokja, DPRD Kabupaten Malang, dengan DPRD Provinsi dan DPR RI.
Bayangkan rantai birokrasinya: Pokja di Batu ingin lobi ke kabupaten, kabupaten harus merekomendasikan ke provinsi, provinsi harus merekomendasikan ke pusat (DPR RI) untuk pengesahan UU. Rantai yang panjang dan berliku.
Mashuri-lah yang menjadi jembatan itu. Sebagai anggota DPRD Kabupaten Malang yang berasal dari Batu, ia punya akses ke DPRD Provinsi Jawa Timur, dan melalui jaringan partainya (Golkar), ia juga punya akses ke DPR RI di Senayan.
“Kalau Pokja buntu di kabupaten, kakak saya yang carikan jalan ke provinsi. Kalau buntu di provinsi, beliau yang carikan jalan ke DPR RI. Beliau jembatannya,” ujar Muji Leksono.
Kronologi Ketua DPRD: Abdul Kadir Sementara, H. Mashuri Pertama
Setelah Kotatif Batu ganti menjadi Pemkot Batu, perjalanan politik Mashuri berlanjut di kota yang baru lahir itu.
Tercatat dalam sejarah, saat Pemkot Batu baru berdiri, jabatan Ketua DPRD diisi sementara oleh Abdul Kadir sebagai Ketua DPRD Sementara.
Setelah masa sementara tersebut, H. Mashuri Abdul Rochim, S.H., M.M., dilantik sebagai Ketua DPRD Kota Batu pertama yang definitif. Selain itu, ia juga menjadi Ketua DPD Golkar pertama Kota Batu.
Dari kursi Ketua DPRD pertama inilah, empat gagasan besarnya lahir dan menjadi fondasi Pemkot Batu hingga hari ini.
Pertama, ide pendirian Kantor DPRD Pemkot Batu yang mandiri. Di awal otonomi, DPRD belum memiliki gedung representatif. Mashuri menggagas perlunya gedung dewan yang megah dan mandiri sebagai simbol kedaulatan legislatif rakyat.
Kedua, pemberian nama ruangan-ruangan di gedung DPRD Pemkot Batu dengan mengambil nama para tokoh pejuang dan pendiri Kotatif Batu. Gagasan ini lahir dari keprihatinan agar generasi penerus tidak melupakan sejarah. Dengan menempelkan nama pejuang di setiap ruangan, setiap rapat dan setiap keputusan dewan akan selalu ingat jasa para pendiri.
Ketiga, pengadaan aset di Jakarta yang saat ini digunakan untuk rumah singgah Pemkot Batu.
Keempat, gagasan pembangunan Gedung Balai Kota Among Tani Pemkot Batu. Ide tentang perlunya pusat pemerintahan yang terpadu, megah, dan menjadi ikon Kota Wisata Batu, pertama kali dicetuskan oleh Mashuri di masa awal. Ide besar tersebut kemudian dieksekusi dan direalisasikan secara nyata pada masa pemerintahan Wali Kota Eddy Rumpoko, yang kini menjadi Balai Kota Among Tani yang menjadi kebanggaan warga Kota Batu.
Cita-Cita Rumah Sakit Gratis Terkuak Saat Ramah Tamah
Dalam acara ramah tamah usai ziarah, terkuak sebuah cerita yang membuat suasana menjadi haru. Adik kandung almarhum, Muji Leksono, S.H., M.M., menceritakan cita-cita terbesar kakaknya yang belum sempat terwujud.
Menurut Muji Leksono, H. Mashuri memiliki cita-cita mulia untuk membangun rumah sakit gratis untuk warga Kotatif Batu yang kini telah menjadi Pemkot Batu.
“Cita-cita kakak saya sejak awal Batu ingin jadi kota sendiri adalah, warga Batu jangan sampai susah berobat karena tidak punya uang. Beliau ingin ada rumah sakit gratis, miliknya warga Pemkot Batu sendiri. Itu yang selalu beliau sampaikan kepada keluarga,” ujar Muji dengan mata berkaca-kaca.
Testimoni Mantan Sekda: Ketua DPRD Terhebat
Perjuangan Mashuri mendapat pengakuan tinggi dari birokrat senior Pemkot Batu.
Mantan Sekda Kota Batu, Drs. Zadim Effisiensi, M.Si., yang saat ini menjabat Asisten III, merasa bangga dan menyampaikan rasa hormat setinggi-tingginya kepada Mashuri karena perjuangannya dalam menjadikan Kotatif Batu menjadi Kota Batu.
“Beliau adalah Ketua DPRD Kota Batu terhebat hingga saat ini,” tegas Zadim Effisiensi.
Pujian dari seorang mantan Sekda yang pernah menjadi jantung birokrasi Pemkot Batu ini menjadi bukti betapa besar peran Mashuri dalam meletakkan fondasi politik dan pemerintahan di awal berdirinya kota.
Harapan Buku Sejarah di Usia Seperempat Abad
Di usia seperempat abad Pemkot Batu ini, keluarga besar Mashuri menyampaikan harapan yang lebih besar lagi.
Keluarga besar Mashuri mengharapkan Pemkot Batu menerbitkan buku sejarah perjuangan Mashuri dan kawan-kawan seperjuangan dalam perjuangannya melahirkan Pemkot Batu dari Kotatif Batu.
Karena sangat minimnya literasi proses sejarah dan cita-cita para pendiri Kotatif Batu, dikhawatirkan sejarah itu akan terlupakan. Anak-anak muda sekarang hanya tahu Batu adalah Kota Wisata, tapi tidak tahu bagaimana susahnya proses Kotatif Batu ganti menjadi Pemkot Batu.
“Di usia 25 tahun Pemkot Batu ini, literasi sejarah sangat minim. Kami khawatir sejarah itu akan terlupakan. Perlu ada buku resmi agar anak cucu tahu,” kata Muji Leksono.
Kadis Perkim Arief As Siddiq menyambut positif dan berjanji akan menyampaikan aspirasi tersebut kepada pimpinan sebagai kado HUT ke-25 Pemkot Batu.
Ziarah pun ditutup dengan doa bersama, dengan harapan cita-cita para pendiri, termasuk rumah sakit gratis yang dicita-citakan H. Mashuri Abdul Rochim, suatu saat bisa dilanjutkan oleh generasi penerus Pemkot Batu.
(M. Irwan, Arif)




You must be logged in to post a comment Login