Hukum dan Kriminal
“Membuat Laporan Palsu” Ngaku Dibacok Klitih, Ternyata Sayat Tangannya Sendiri

Konferensi pers laporan palsu kasus kejahatan jalanan klitih di Polresta Yogyakarta.
DIY – Berita Patroli – Seorang pria asal Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, AYS (30 tahun), ditangkap oleh jajaran Polresta Yogyakarta karena membuat laporan palsu. Sebelumnya, di media sosial AYS mengaku menjadi korban kejahatan jalanan klitih di depan Taman Pintar Yogya Jalan Panembahan Senopati pada Sabtu (27/5) sekitar pukul 03.00 WIB.
Pada sabtu pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, AYS kemudian melaporkan kasus tersebut ke Polresta Yogyakarta dengan delik kekerasan jalanan. Namun setelah dilakukan penyidikan, jajaran penyidik Polresta Yogya menemukan bahwa laporan tersebut tidak benar.
“Ternyata ditemukan fakta persesuaian antara alat bukti dan barang bukti yang kita temukan ternyata laporan itu tidak benar,” kata Wakasat Reskrim Polresta Yogyakarta, AKP Kusnaryanto, dalam konferensi pers di Polresta Yogyakarta, Senin (29/5).
Alih-alih menjadi korban kejahatan jalanan, AYS ternyata diketahui menyayat tangannya sendiri menggunakan kater.
“Pelaku ternyata menyayat tangannya sendiri,” lanjutnya.
Saat ini, polisi belum bisa menyimpulkan apa motif AYS melakukan aksi tersebut, sebab saat ini masih ada beberapa saksi yang harus diperiksa dan kini masih berada di luar kota. Namun, berdasarkan keterangan pelaku, polisi menemukan bahwa sebelumnya pelaku sudah sempat melakukan melukai diri sendiri di dalam kamarnya saat masih bersekolah, namun tidak sampai diunggah ke media sosial.
Dari pengakuan tersebut, jajaran Polresta Yogya menduga bahwa pelaku mengalami masalah personal baik secara mental maupun psikologis. Namun, dugaan itu masih harus dikonfirmasi oleh tenaga ahli kejiwaan.
“Rencana akan kita tes psikologi,” kata AKP Kusnaryanto..
Adapun sejumlah barang bukti diamankan oleh polisi seperti satu lembar laporan polisi, satu lembar bukti tanda penerimaan laporan polisi, satu buah cutter yang digunakan oleh pelaku untuk melukai, satu handphone milik pelaku, dan sebuah handphone yang digunakan untuk memfoto luka pelaku.
AYS dipersangkakan Pasal 14 ayat 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 subsider Pasal 14 ayat 2. Kemudian yang kedua diterapkan juga pasal 242 KUHP subsider pasal 220 KUHP.
“Ancaman hukumannya Pasal 14 ayat 1 ini 10 tahun. Pasal 14 ayat 2 ini 3 tahun, dan Pasal 242 KUHP 7 tahun dan pasal 220 ancaman 1 tahun 4 bulan,” ujarnya.
Sebagai informasi, sebelumnya pelaku mengunggah pengakuan menjadi korban klitih di sebuah akun media sosial dengan keterangan “Terjadi klitih pagi tadi, kurang lebih jam 3.50 WIB terkena sabetan pedang dan kater di area 0 km (di depan taman pintar) lebih tepatnya”.
Saat ini, unggahan yang sempat viral dan mendapat respons dari ribuan warganet tersebut diketahui telah dihapus. (Red)
