Connect with us

Berita Patroli

Berita Patroli

Berita Nasional

Skandal Taman Kota Surabaya, Media Tanam Diduga Gunakan Sedimen Sungai dan Tanah Galian Demi ‘Bancakan’ APBD

Proyek taman kota di Jalan Jaksa Agung Suprapto menuai sorotan. Tanah bercampur sampah, batu, hingga sedimen sungai diduga dipakai sebagai media taman. Masyarakat menilai proyek tersebut sebagai upaya mencari keuntungan dari anggaran APBD.

Proyek taman kota di Jalan Jaksa Agung Suprapto menuai sorotan. Tanah bercampur sampah, batu, hingga sedimen sungai diduga dipakai sebagai media taman. Masyarakat menilai proyek tersebut sebagai upaya mencari keuntungan dari anggaran APBD.

BERITA PATROLI – SURABAYA

Proyek taman kota yang seharusnya mempercantik wajah Surabaya kini justru memunculkan dugaan permainan anggaran. Pekerjaan taman di kawasan Jalan Jaksa Agung Suprapto menjadi perhatian publik setelah ditemukan penggunaan tanah urukan yang diduga berasal dari bekas galian dan sedimen sungai.

Kondisi tersebut dinilai sangat memprihatinkan dan terkesan dikerjakan asal jadi. Alih-alih menghadirkan taman hijau yang asri dan menyejukkan, proyek tersebut justru memperlihatkan tumpukan tanah bercampur sampah, batu, hingga lumpur endapan sungai yang tidak layak dijadikan media tanam.

Padahal, sebagai kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta, Surabaya seharusnya mampu menghadirkan taman kota yang berkualitas dan tertata rapi, bukan malah diduga memakai material buangan demi menekan biaya proyek.

Hasil pantauan wartawan investigasi BERITA PATROLI di lokasi menemukan bahwa tanah yang digunakan sangat jauh dari standar tanah taman. Material yang dipakai terlihat kasar, penuh bebatuan, dan bercampur limbah tanah galian.

Kondisi ini memunculkan dugaan adanya praktik mencari keuntungan dari proyek APBD dengan mengganti tanah taman menggunakan tanah buangan yang nilainya jauh lebih murah.

Pengamat lingkungan sekaligus aktivis Komunitas Pergerakan Arek Soeroboyo (KomPAS), Yanto Ireng, menilai penggunaan tanah tersebut sangat tidak masuk akal jika memang proyek itu dikerjakan secara profesional.

“Kalau benar untuk taman kota, seharusnya memakai tanah khusus media tanam, bukan tanah bekas galian atau sedimen sungai. Ini patut diduga ada upaya mencari keuntungan dengan menekan kualitas material,” tegas Yanto.

Ia juga mempertanyakan pengawasan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya terhadap pekerjaan taman tersebut. Menurutnya, penggunaan tanah tidak layak bisa berdampak pada matinya tanaman dan rusaknya estetika kota.

“Kalau taman dibangun asal-asalan seperti ini, masyarakat juga yang dirugikan. Anggaran besar dari APBD jangan sampai hanya jadi bancakan proyek,” tambahnya.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, Kepala Bidang Taman DLH Kota Surabaya, Pramudita, belum memberikan jawaban saat dikonfirmasi wartawan melalui pesan WhatsApp. Sikap bungkam tersebut memunculkan kesan bahwa pihak terkait alergi wartawan.

(BJP, Tomy)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Berita Nasional

To Top