Connect with us

Berita Patroli

Berita Patroli

Berita Nasional

Susu Kedelai Basi Masuk Paket Makan MBG, Siswa di Rengel Tuban Nyaris Keracunan Masal

Program makan bergizi seharusnya menjadi wujud kepedulian nyata terhadap kesehatan dan masa depan generasi penerus bangsa. Namun insiden yang terjadi menjadi pengingat keras bahwa niat baik saja tidak cukup. Pengawasan mutu, kontrol kualitas, dan tanggung jawab penuh dalam setiap proses penyajian makanan adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar.Anak-anak sekolah bukan objek percobaan. Mereka berhak mendapatkan asupan yang benar-benar layak, higienis, dan aman dikonsumsi. Kelalaian sekecil apa pun dapat berujung pada risiko besar, bahkan ancaman keracunan massal.
Kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi pengelola, agar ke depan program sosial seperti ini benar-benar membawa manfaat, bukan kekhawatiran. Transparansi, profesionalisme, dan pengawasan ketat wajib ditegakkan demi melindungi kesehatan siswa.

Program makan bergizi seharusnya menjadi wujud kepedulian nyata terhadap kesehatan dan masa depan generasi penerus bangsa. Namun insiden yang terjadi menjadi pengingat keras bahwa niat baik saja tidak cukup. Pengawasan mutu, kontrol kualitas, dan tanggung jawab penuh dalam setiap proses penyajian makanan adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar.
Anak-anak sekolah bukan objek percobaan. Mereka berhak mendapatkan asupan yang benar-benar layak, higienis, dan aman dikonsumsi. Kelalaian sekecil apa pun dapat berujung pada risiko besar, bahkan ancaman keracunan massal.

BERITA PATROLI – TUBAN

Niat mulia mencerdaskan generasi bangsa lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru ternoda insiden memprihatinkan. Kamis, 26 Februari 2026, suasana ceria siswa di salah satu sekolah di Kecamatan Rengel mendadak berubah, setelah minuman yang mereka terima dalam kondisi basi.

Program yang seharusnya menjadi berkah itu berubah menjadi sumber kekhawatiran. Paket menu yang dibagikan terdiri dari piscok (pisang cokelat), telur rebus, dan sebotol susu kedelai. Awalnya, anak-anak menyambutnya dengan penuh antusias. Namun kegembiraan tersebut sirna saat beberapa botol susu kedelai dibuka.

Alih-alih rasa gurih dan segar, aroma asam menyengat langsung tercium dari dalam botol. Cairan susu kedelai disebut telah berubah, berbau tidak sedap, dan menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang jelas.

“Sangat disayangkan, program sebagus ini dicoreng kurangnya pengawasan mutu. Susu kedelai itu cairannya sudah berubah, baunya sangat tidak enak. Bagaimana jika sampai tertelan oleh anak sekolah?” ujar salah satu saksi di lokasi.

Temuan tersebut sontak memicu keresahan. Warga khawatir jika minuman itu sempat dikonsumsi, dampaknya bisa berbahaya bagi kesehatan anak-anak.

Susu kedelai basi berpotensi mengandung bakteri patogen yang dapat memicu keracunan makanan, mulai dari kram perut, mual, muntah, hingga dehidrasi akibat diare. Kekhawatiran akan kemungkinan keracunan massal pun mencuat.

Menu piscok, telur rebus, dan susu kedelai dibagikan kepada siswa di Rengel, Tuban. Namun yang mengejutkan, susu kedelai yang diterima sudah basi. Bau asam menyengat, cairan berubah, jelas tak layak konsumsi.Program bergizi seharusnya menyehatkan, bukan justru mengancam.
Kelalaian sekecil apa pun bisa berujung fatal jika menyangkut anak sekolah.
Evaluasi total wajib dilakukan.

Menu piscok, telur rebus, dan susu kedelai dibagikan kepada siswa di Rengel, Tuban. Namun yang mengejutkan, susu kedelai yang diterima sudah basi. Bau asam menyengat, cairan berubah, jelas tak layak konsumsi.
Program bergizi seharusnya menyehatkan, bukan justru mengancam.
Kelalaian sekecil apa pun bisa berujung fatal jika menyangkut anak sekolah.
Evaluasi total wajib dilakukan.

Dapur penyedia MBG yang berlokasi di RT 07 RW 07 kini menjadi perhatian. Publik mempertanyakan standar operasional prosedur (SOP) dan sistem pengawasan kualitas bahan pangan yang digunakan.

Apakah ini murni kelalaian dalam penyimpanan? Ataukah ada faktor lain yang menyebabkan produk tak layak konsumsi bisa lolos dan dibagikan kepada siswa?

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak pengelola yayasan terkait penyebab beredarnya susu basi tersebut.

Insiden “Kamis Kelabu” di Rengel itu diharapkan menjadi peringatan keras bagi seluruh penyedia jasa makanan, khususnya dalam program berbasis bantuan sosial untuk anak-anak sekolah.

Warga mendesak evaluasi menyeluruh agar program makan gratis benar-benar membawa manfaat, bukan ancaman kesehatan. Satgas dari TNI maupun Polri juga diharapkan turun tangan mengusut tuntas kejadian ini guna memastikan tidak terjadi lagi kelalaian serupa.

Kepala Desa Mundir menyayangkan peristiwa tersebut. Ia berharap yayasan pengelola lebih berhati-hati dalam penyajian makanan dan minuman, mengingat yang mengonsumsi adalah anak-anak.

“Yayasan yang menggunakan ahli gizi harus lebih sering melakukan pengamatan dan pengawasan terhadap makanan serta minuman yang disuguhkan, agar tidak menjadi masalah atau bahkan bencana di kemudian hari,” tegasnya.

Peristiwa ini menjadi alarm keras pemerintah, ‘program sebaik apa pun, tanpa pengawasan ketat dan tanggung jawab penuh, bisa berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan generasi penerus bangsa’.

(Suyanto, Tomy)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Berita Nasional

To Top