Hukum dan Kriminal
Polrestabes Surabaya Kantongi 114 Nama Terkait Joki UTBK, Publik Desak Pengusutan Tak Berhenti di Peserta dan Pemberi Jasa

Konferensi pers pengungkapan sindikat joki UTBK oleh Polrestabes Surabaya membuka fakta memprihatinkan tentang bobroknya integritas dalam seleksi pendidikan tinggi. Sebanyak 114 nama sudah dikantongi penyidik, tersebar di berbagai daerah dan didominasi peminat Fakultas Kedokteran.
Kasus ini tidak boleh berhenti sebagai sensasi sesaat. Jika hanya pengguna dan pelaku lapangan yang diproses, sementara jaringan besar di belakangnya lolos, maka praktik serupa akan terus tumbuh.
BERITA PATROLI – SURABAYA
Pengungkapan sindikat joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) oleh Satreskrim Polrestabes Surabaya terus berkembang. Setelah menangkap 14 tersangka dari berbagai latar belakang profesi, penyidik kini mengantongi 114 nama yang diduga terkait praktik kecurangan seleksi masuk perguruan tinggi tersebut.
Daftar nama itu tersebar di sejumlah wilayah mulai Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat hingga Kalimantan. Dugaan keterlibatan mereka pun beragam, baik sebagai pemberi jasa, pengguna jasa, maupun pihak yang diduga terhubung dalam jaringan perjokian UTBK.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan mengatakan, ratusan nama tersebut masih terus didalami penyidik.
“Daftar nama 114 orang ini masih kita dalami. Tentunya akan kita bongkar ke depan,” ujarnya.
Dari hasil pemeriksaan sementara, Fakultas Kedokteran disebut menjadi jurusan yang paling banyak diminati pengguna jasa joki. Tingginya tingkat persaingan dan sulitnya materi ujian disebut menjadi alasan utama para peserta nekat menempuh jalur curang.
“Dari pengakuan salah satu tersangka karena memang Fakultas Kedokteran memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibanding dengan yang lain,” tegas Luthfie.
Kanit Tipidek Satreskrim Polrestabes Surabaya AKP Tony Hariyanto mengungkapkan, salah satu tersangka berinisial N bahkan tercatat sebagai mahasiswa berprestasi yang akan diwisuda dengan predikat cumlaude.
“N ini memang mahasiswa yang sebenarnya pada bulan Oktober ini akan wisuda. Dengan predikat kalau nilai-nilai yang sudah ada sekarang kita cek ternyata juga cumlaude,” terang Tony.
Kasus ini sebelumnya terungkap dari temuan pengawas di tiga kampus negeri di Surabaya saat pelaksanaan UTBK berlangsung. Polisi kemudian mengembangkan penyelidikan hingga berhasil membongkar jaringan joki yang melibatkan mahasiswa, dokter, ASN PPPK, pegawai swasta hingga pelajar.
Namun publik menilai pengusutan kasus ini tidak boleh berhenti hanya pada pemberi dan penerima jasa joki semata.
Aparat penegak hukum didorong membongkar seluruh mata rantai yang memungkinkan praktik curang itu berjalan sistematis, termasuk dugaan adanya aktor intelektual, perantara, hingga kemungkinan keterlibatan oknum yang memiliki akses terhadap sistem pelaksanaan ujian.
Sebab praktik joki UTBK bukan sekadar pelanggaran biasa, melainkan bentuk penghancuran integritas dunia pendidikan. Jika jaringan semacam ini dibiarkan atau hanya disentuh di permukaan, maka kepercayaan masyarakat terhadap sistem seleksi masuk perguruan tinggi dapat runtuh, terlebih ketika jurusan strategis seperti kedokteran justru diwarnai praktik manipulasi sejak proses awal seleksi.
(Tomy)















You must be logged in to post a comment Login