JATIM
Krisis Kepemimpinan Hingga Dugaan Pungutan Liar, MAN 2 Kota Kediri Terlempar dari 10 Besar SNBP 2026

Dulu dibanggakan, kini dipertanyakan. MAN 2 Kota Kediri tak lagi masuk jajaran elite dalam data SNBP 2026. Di saat madrasah lain berbenah dan melesat, justru di sini muncul isu stagnasi kepemimpinan hingga dugaan ketidakharmonisan internal. Lebih jauh lagi, suara orang tua soal biaya masuk yang tidak kecil menjadi tamparan keras. Ini bukan sekadar soal ranking, tapi soal arah, integritas, dan masa depan siswa.
BERITA PATROLI – KEDIRI
Berdasarkan data penerimaan SNBP 2026, sekolah ini tidak masuk dalam daftar 10 besar jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri.
Data dari bidang Pendma Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur menunjukkan posisi MAN 2 Kota Kediri tertinggal dibanding madrasah lain di wilayah yang sama. MAN 1 Kota Kediri justru mampu menembus peringkat 9, sementara MAN 3 Kabupaten Kediri berada di posisi 28.
Kondisi ini memicu pertanyaan publik. Sejumlah pihak menilai penurunan capaian akademik tersebut perlu menjadi bahan evaluasi serius, terutama terkait kepemimpinan di internal madrasah.
Isu stagnasi jabatan kepala madrasah juga ikut mencuat. Pergantian pimpinan dinilai minim dalam beberapa tahun terakhir, bahkan kini posisi kepala masih diisi pelaksana tugas (Plt). Situasi ini memunculkan spekulasi di tengah masyarakat mengenai adanya faktor non-teknis yang memengaruhi dinamika kepemimpinan.

Deretan MA Negeri dengan penerimaan terbanyak di SNBP 2026 menjadi bukti nyata bahwa kualitas itu terukur, bukan sekadar klaim. Mereka yang masuk daftar teratas adalah yang mampu menjaga ritme pembinaan siswa, memperkuat sistem, dan memastikan kepemimpinan berjalan efektif. Sementara itu, madrasah yang gagal bersaing harus berani berkaca, apa yang salah, dan siapa yang bertanggung jawab.
Tak hanya itu, keluhan juga datang dari salah satu orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya. Ia mengaku harus mengeluarkan biaya cukup besar saat awal masuk sekolah.
“Awal masuk saja saya mengeluarkan lebih dari Rp4 juta untuk seragam, amal jariah, dan lain-lain. Padahal ini sekolah negeri,” ujarnya.
Ia mengaku kecewa karena besarnya biaya yang dikeluarkan tidak sejalan dengan capaian prestasi akademik sekolah saat ini. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi bagi lembaga pendidikan yang selama ini dikenal unggul.
Selain itu, beredar pula kabar mengenai ketidakharmonisan internal antara tenaga pendidik dengan pimpinan sebelumnya. Meski belum terkonfirmasi secara resmi, isu ini dinilai turut memengaruhi kinerja institusi secara keseluruhan.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak MAN 2 Kota Kediri belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang diajukan. Hal serupa juga terjadi pada Kementerian Agama Kota Kediri yang belum merespons permintaan klarifikasi.
Publik kini menanti langkah tegas dari otoritas terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh, baik dari sisi manajemen, transparansi pembiayaan, maupun peningkatan kualitas akademik, demi mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan tersebut.
(Nyoto, Hari Kaking)















You must be logged in to post a comment Login