Berita Nasional
Penyebaran Pandemi Covid 19 diSurabaya Kembali Zona Hitam dan Merah di Surabaya, Wali Kota Himbau Masyarakat Jangan Kemana-mana
Berita PATROLI Surabaya – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengimbau masyarakat untuk tidak berpergian kemana-mana. Pasalnya, hingga saat ini virus Covid-19 masih mewabah di Tanah Air dan belum diketahui kapan akan berakhir. Terlebih, sejak awal bulan Juni 2020, Kota Surabaya di peta sebaran Covid-19 di Jawa Timur terlihat berwarna hitam.
Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, dr Joni Wahyuhadi, mengatakan, warna hitam menunjukkan tingginya kasus Covid-19 di Surabaya.
Bahkan, hingga pekan ini, terdapat 2.758 kasus positif Covid-19 di Surabaya.
Selain Surabaya, beberapa daerah di Jawa Timur juga berubah warna menjadi lebih pekat, seperti Sidoarjo dengan 683 kasus dan Gresik 183 kasus.
“Semakin banyak catatan kasusnya, warna di peta sebaran akan semakin pekat hingga berwarna hitam,” ujar Joni di Gedung Negara Grahadi Surabaya,
Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa pun angkat bicara terkait status Surabaya yang disebut menjadi zona hitam pada peta sebaran Covid-19.
Ia menyatakan, warna pada peta sebaran Covid-19 di Surabaya bukanlah hitam, melainkan merah tua.
Ketika warnanya semakin merah tua, lanjut Khofifah, hal ini berarti tingkat penyebarannya kian rawan serta jumlah pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 semakin tinggi.
Zona Merah Hitam di Surabaya Akibat Sebaran Covid-19
“Warna ini untuk menilai yang terkonfirmasi positif lebih banyak, jadi merah gelap atau merah tua, tapi ada kesan itu menghitam,” kata Khofifah saat wawancara dengan Jurnalis kemaren
Oleh karenanya warga Kota Surabaya, Jawa Timur, diimbau agar tidak bepergian ke luar kota pada saat libur Natal dan tahun baru 2021.
Pesan itu disampaikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebagai upaya memutus rantai penyebaran Covid-19.
“Masalahnya ini nanti ada liburan lagi. Saya berharap kalau memang tidak terpaksa, tidak ke luar kota terlebih dahulu,” kata Risma dikutip dari berita PATROLI, Jumat (4/12/2020).
Apalagi, lanjut dia, ketika warga berlibur ke luar kota, mereka akan sulit terdeteksi telah melakukan kontak dengan siapa saja.
Sementara di Kota Surabaya sendiri, Pemerintah Kota Surabaya dengan masif melakukan tracing dan testing sehingga dapat diketahui siapa saja yang berpotensi besar untuk tertular.
Terlebih lagi ketika warga tersebut tergolong orang tanpa gejala (OTG), maka akan sulit terdeteksi jika tidak dilakukan pemeriksaan swab.
“Karena itu saya berharap liburan ini tolong usahakan tidak ke mana-mana dulu sampai kondisi di luar sana relatif lebih baik,” ujarnya.
“Jangan kemudian kita tertular dan impact-nya itu ke keluarga kita. Ada yang kuat, tapi ada yang tidak kuat.
Jadi contohnya misalnya ada seorang dokter yang kami tracing ternyata dia juga habis dari luar kota,” kata Risma menambahkan ( Arinta/Andrijanto/Wawan )















You must be logged in to post a comment Login