Hukum dan Kriminal
Takut Ketahuan Majikan, Seorang ART Tega Mencekik Bayinya Sendiri Hingga Tewas

Sidang pembunuhan bayi oleh ibunya. Jaksa datangkan dua saksi (Rumini dan Vence Hantuma), majikan Terdakwa Marta, Senin (5/2/2024)
SURABAYA – Berita Patroli – Seorang Asisten Rumah Tangga (ART) yakni Marta Pade Lele membunuh bayinya sendiri. Bayi dibunuh dengan cara dicekik. Alasan Terdakwa tega menghabisi anak kandungnya tersebut lantaran takut ketahuan majikan.
Marta yang saat persidangan diperiksa sebagai Terdakwa mengakui semua perbuatannya. Dia mengatakan, selama ini tidak ada yang mengetahui bahwa dia dalam keadaan hamil. Sebab Marta adalah korban pemerkosaan pamannya sendiri.
” Saya diperkosa paman saya sendiri, saya diancam akan dibunuh. Paman saya bernama isak,” ujarnya.
Saat ditanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Deddy Arisandi siapa yang menyuruh membunuh anak tersebut, Marta mengaku tak ada yang menyuruh. Menurut wanita kelahiran 20 tahun silam ini, dia membunuh bayinya karena takut ketahuan majikannya.
“Saya takut ketahuan majikan, tidak ada yang menyuruh saya, paman saya yang menghamili, saya diperkosa dan diancam dibunuh, nama paman saya Isak,” ujarnya.
Diketahui, pada hari Kamis (28 September 2023), jam 04.00 WIB, di rumah Jalan Sukomanunggal Jaya 1/ 110 Surabaya, Bertempat dilantai 2, Terdakwa Marta Pade Lele (20) yang berprofesi sebagai Asisten Rumah Tangga (ART), melahirkan bayi tanpa bantuan di kamarnya, saat bayi tersebut keluar kondisi masih hidup, karena takut dan panik dengan suara bayi tersebut, Terdakwa mencekik leher bayi hingga berhenti menangis dan tak bernafas lagi.
Selanjutnya Terdakwa membangunkan Once Orianti Sole alias Rani di kamar lantai 1, saat membuka kamar terlihat terdakwa ada bekas darah mengiringi di betisnya. Terdakwa berkata, ” Saya habis melahirkan tapi bayinya meninggal”.
Once menelpon saksi Siti Hanin Nurmima, saat Siti tiba, saksi Once bercerita bahwa terdakwa melahirkan bayi, tapi bayinya meninggal, Siti bertanya ke terdakwa dijawab benar. Siti mendatangi kamar Kris serta melapor ke saksi Vence Hantuma berada di kamar lantai 2, mengatakan “Pak tolong angkat telpon ibu”
Saat mengangkat telpon dari Kris langsung berteriak “Si Marta melahirkan di kamarnya”.
Vence Hantuma kaget tak berani ke kamar terdakwa. Dia memerintahkan Siti ke rumah saksi Rumini. Rumini datang menuju kamar Terdakwa, di lantai 2, terlihat bayi terlentang di lantai hanya beralas kaos tanpa ditutup dan kondisi banyak darah dan mulut miring ke kiri tidak normal, sekitar bayi banyak darah, tali pusar masih menempel di perut bayi.
Rumini mengecek dua jarinya ke leher dan dada bayi tidak ada denyut dan nafas, saksi Rumini melipat tangan bayi ke dada membungkus bayi, juga meminta tali rafia untuk menali bagian kaki, perut dan dada, Rumini teriak dari atas.
“Bayinya sudah meninggal pak, kayaknya barusan karena badannya masih anget,” ujar Rumini yang menjadi saksi dalam persidangan.
Vence bertanya pada Terdakwa, ” kok bisa begini” terdakwa hanya menangis.Rumini turun ke lantai 1, ” Anaknya kamu apain, kok wajahnya agak penceng,” terdakwa tidak mengaku, berkata “tidak diapa-apain”.Beberapa saat kemudian petugas Polsek Sukomanunggal datang.
(Red)
