JATIM
Diduga Menu Makan Gizi Gratis Bulan Agustus Tidak Memenuhi Standar BGN, Didistribusikan Dapur SPPG Di Tuban

Menu makan bergizi gratis yang dibagikan kepada siswa di Tuban menuai kritik, usai ditemukan lauk dan buah dalam kondisi tidak layak konsumsi.
Berita Patroli – Tuban
Sebuah kasak – kusuk muncul dari orang tua penerima manfaat progam Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tingkis Singgahan. Pasalnya, Menu makan siang terdiri mie kering, naget, lalap dan 1 buah salak porsi lengkap MBG, disajikan bagi siswa sekolah di salah satu sekolah negeri di Singgahan, dilaporkan tidak memenuhi standar BGN (Bahan Gizi Nasional) dan bahkan mie dan buah salak tersebut basi. Siswa memilih membawa pulang kerumah untuk dibuang.
Kualitas Menu Makanan Dipertanyakan
Salah satu orang tua siswa mempertanyakan kualitas makanan progam MBG yang diolah dapur umum atau SPPG Tingkis Singgahan. Ia khawatir makanan dalam pengolahan bahan baku kurang dipilih dan tidak memenuhi standar gizi. Hal ini berdampak negatif pada kesehatan penerima manfaat anak sekolah.
“Kalau menu mie seperti ini sudah dua kali di awal -awal bulan Agustus, dan Senin kemarin telur godok tapi ada yang berbau,” ucap wali murid yang bercerita dari anaknya.
Ia menegaskan kepada media ini dengan tidak ingin namanya ditulis atau di catut berdalil tak ingin ada kegaduhan saat ditanya kenapa orang tua, siswa sekolah dan dinas pendidikan tidak berani melapor.
Selain itu, rata rata anak sekolah selaku penerima manfaat yang mendapatkan menu kurang bagus ini takut berurusan dengan pihak – pihak terkait sama seperti yang pernah terjadi temuan ulat di kecamatan Tambakboyo Tuban silam.
“Sebenarnya banyak yang mengeluh tetapi tidak berani lapor. Kalau menu-nya bau di awal dan pekan kedua bulan Agustus antara tanggal 4 sampai 12 Agustus. Hingga, siswa memilih membawa pulang kerumah makanan tersebut,”imbuhnya
Dikonfirmasi terpisah lewat telepon aplikasi WhatsApp, Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) atau Kepala SPPG Tingkis, Arum Mustikasari menjelaskan bahwa, pihak menerima informasi yang disampaikan media ini. Namun demikian, pihak dapur tidak bisa menindaklanjuti laporan atau kasak – kusuk tersebut. pasalnya, menu makan telah melalui proses penjadwalan. “temuan makan mie berbau atau basi tidak bisa diterima dan kurang detail hari dan tanggalnya,” jawabnya dan menutup telponya.
Kemudian, dari penulusuran ke sejumlah sekolah penerima manfaat MGB, salah satu kepala sekolah menengah Singgahan S mengatakan bahwa, pihaknya dalam penerimaan menu makan siang gratis telah memberi tugas khusus 1 tenaga guru sekolah untuk memantau quality control menu makan dari SPPG sebelum dibagikan kepada 784 siswa. Diakui olehnya terkadang dari menu yang akan disajikan terdiri dari protein Hewani, Nabati, sayur mayur dan buah buahan yang tidak layak. ” Seperti 25 Agustus ada beberapa buah salak yang busuk. Kemudian dari petugas kami melaporkan kepada SPPG-nya,” ucapnya

Sejumlah wali murid mempertanyakan kualitas program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tuban, lantaran menu yang dibagikan diduga tak sesuai standar BGN.
Kemudian, di awal penerimaan menu siang gratis juga ditemukan lauk yang berbau. Namun, tidak secara total keseluruhan penerimaan 784 siswa. S juga secara keseluruhan mendukung progam MBG serta berharap manajemen SPPG, terus memperbaiki kualitas serta meningkatkan menu makan siang tersebut.
“Harap kami tentu mulai bulan ini ada meningkatan kualitas makanan yang dibagikan penerima manfaat,” tukasnya
Sedana S salah seorang bunda paud TK Dharmawanita R berharap kedepan tidak terulang kejadian seperti di akhir pekan bulan Agustus yakni protein hewani yang diperoleh dari daging ayam berbau.
“Antara tanggal dua puluhan keatas bulan Agustus ada kejadian daging ayam berbau tapi kejadian ini tidak total beberapa dalam kondisi berbau,” tutupnya
BGN Kurang Pengawasan dan Pemantauan Berkelanjutan Terhadap Mitra SPPG Yang Operasional.
Puluhan berdiri dan beroperasionalnya sejumlah SPPG di Kabupaten Tuban, tidak dibarengi adanya petugas sebagai kepanjangan tanganan yang ditunjuk oleh Badan Gizi Nasional (BGN) di daerah -daerah. Sebaliknya, BGN hanya bertumpu kepada satu orang sebagai Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang bertugas pada masing – masing dapur umum.
Sehingga, kekurang tenaga pemantau dari BGN ini membuat progam prioritas Presiden Prabowo Subianto rawan dimanfaatkan alias aji mumpung bagi sebagian SPPG dapur umum yang telah mendapatkan surat kontrak kerjasama dengan BGN dalam menyajikan makan pagi atau siang sekolah.
Sebab itu, perlu dilakukan investigasi lebih lanjut untuk memastikan kualitas makanan yang disajikan SPPG kepada anak sekolah maupun ibu hamil, menyusui atau penerima manfaat bantuan. Selain itu, BGN perlu juga menunjuk petugas independen sebagai pemantau yang dapat mengevaluasi terhadap proses pengadaan dan distribusi makanan guna mencegah penyimpangan penyajian makan siang atau pagi pada cakupan progam MBG agar kejadian serupa di masa depan dapat dihindarkan.
Pentingnya Kualitas Makanan
Kualitas makanan yang baik sangat penting untuk menjaga kesehatan dan pemenuhan gizi anak sekolah. Oleh karena itu, perlu dipastikan bahwa makanan yang disajikan memenuhi standar gizi yang ditetapkan.
Sebagaimana dalam petunjuk teknis penyelenggaraan bantuan pemerintah untuk progam MBG tahun 2025 revisi ke 1 pada halaman 8 disebutkan persyaratan dan mekanisme pemberian MBG ke siswa berdasarkan :
1) Terdiri dari menu lengkap dengan mengacu pada prinsip gizi seimbang dan diperuntukkan mengganti salah satu waktu makan utama, yaitu makan pagi atau makan siang;
2) Menu lengkap MBG gizi seimbang sesuai
ketetapan Kementerian Kesehatan terdiri dari makanan pokok, sayuran, lauk pauk dan buah,
3) Memenuhi angka kecukupan gizi harian sesuai umur kelompok sasaran, 20-25% untuk makan pagi, atau 30-35% untuk makan siang;
4) Paket menu MBG disajikan untuk 1 kali makan.
5) Terjamin mutu dan keamanan pangan mengikuti penerapan 5 (lima) kunci keamanan pangan WHO yakni menjaga pangan pada suhu aman, gunakan air dan bahan baku aman, menjaga kebersihan, mengolah atau memasak dengan benar, pisah pangan masak dengan pangan matang.
Dalam grand desain juklis program BGN oleh BGN ditegaskan juga berdirinya dapur umum (SPPG) dalam tata kelola dan manajemen disebutkan dari proses pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian progam, termasuk pembagian peran, koordinasi, dan distribusi makanan secara efektif dan transparan.
(Yanto)















You must be logged in to post a comment Login