JATIM
Bulan Suro/Muharam 1448 H, Desa Kembangan Gelar Bersih Desa di Punden Bersejarah, Satukan Doa, Syukur, dan Pelestarian Budaya

Warga Desa Kembangan menggelar Bersih Desa di Bulan Suro sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT dan penghormatan kepada para pendiri desa. Doa, selamatan, dan Tari Gambyong menjadi simbol menjaga sejarah, mempererat kebersamaan, dan melestarikan budaya untuk generasi mendatang.
BERITA PATROLI – MAGETAN
Memasuki Bulan Suro atau Muharam 1448 Hijriah, masyarakat Desa Kembangan, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan, kembali menggelar tradisi tahunan Bersih Desa sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah merintis berdirinya desa.
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini dipusatkan di dua petilasan bersejarah, yakni Punden Utara di Dusun Ngingas dan Punden Selatan di Dusun Nglakar. Kedua punden tersebut memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang terus dijaga serta dilestarikan oleh masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama, selamatan, dan pengiriman doa kepada para leluhur serta sesepuh desa. Selain menjadi wujud syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat persaudaraan dan menjaga nilai-nilai budaya yang telah hidup di tengah masyarakat selama puluhan tahun.
Suasana semakin semarak dengan penampilan Tari Gambyong, kesenian tradisional Jawa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan Bersih Desa. Kehadiran tarian tersebut menjadi simbol komitmen masyarakat dalam nguri-uri budaya agar warisan leluhur tetap lestari dan dikenal oleh generasi penerus.
Acara dihadiri Kepala Desa Kembangan Yanimaryadi, perangkat desa, tokoh masyarakat, ketua RT/RW, serta tamu undangan dari Polsek Sukomoro, Koramil Sukomoro, dan Kecamatan Sukomoro.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Kembangan Yanimaryadi menegaskan bahwa tradisi Bersih Desa merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, bukan ritual menyembah benda atau tempat tertentu.
“Bersih Desa ini digelar sebagai rasa syukur kepada Allah SWT, sekaligus mengirimkan doa kepada para leluhur dan tokoh-tokoh yang dahulu merintis serta membangun Desa Kembangan. Pelaksanaan di punden bukanlah perbuatan musyrik, bukan menyembah pohon, kayu, patung, atau arca. Kita tetap berdoa hanya kepada Allah SWT,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa keberadaan punden merupakan bagian dari sejarah berdirinya Desa Kembangan yang patut dijaga sebagai warisan budaya, bukan untuk disembah. Menurutnya, tradisi Bersih Desa adalah bentuk pelestarian adat dan sejarah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Desa Kembangan berharap masyarakat senantiasa diberikan keberkahan, keselamatan, kesehatan, ketenteraman, kemakmuran, kesuburan, serta kelancaran rezeki. Tradisi Bersih Desa juga diharapkan menjadi media edukasi bagi generasi muda agar terus mencintai, memahami, dan melestarikan nilai-nilai budaya serta sejarah desa sebagai bagian dari identitas bangsa.
. @pria/jgt-88.















You must be logged in to post a comment Login