Hukum dan Kriminal
Pelaku Pembacokan Pelajar di Bogor, Dituntut Bui 7 Tahun

Foto: ASR alias Tukul (17), eksekutor pembacokan pelajar hingga tewas di Simpang Pomad Kota Bogor dituntut hukuman penjara 7,5 tahun. Begini perjalanan kasusnya.
Bogor – Berita Patroli – ASR alias Tukul (17), eksekutor pembacokan pelajar hingga tewas di Simpang Pomad, Kota Bogor, telah menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Bogor. Jaksa menuntut Tukul disanksi penjara selama 7 tahun 6 bulan, ditambah 1 tahun pelatihan kerja.
“Pembacaan tuntutan sudah dilaksanakan, kami menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 7 tahun 6 bulan,” kata Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Kota Bogor Riyanto saat ditemui di PN Bogor, Selasa (6/6/2023).
“Dan pelatihan kerja selama 1 tahun di unit pelaksana teknis Dinas Sosial pusat di Cileungsi, Kabupaten Bogor,” tambahnya.
Sidang dengan agenda pembacaan tuntutan digelar pada Selasa (6/6) siang.
Riyanto menyebutkan tuntutan 7,5 tahun merupakan tuntutan maksimal kepada terdakwa Tukul. Jejak perbuatan kriminal jadi salah satu pertimbangan jaksa.
“Kan kalau anak-anak sudah ada aturannya jelas di undang-undang, yaitu setengah dari tuntutan untuk orang dewasa. Kami menuntut 7 tabun 6 bulan itu sudah tuntutan maksimal,” kata Riyanto.
“Kenapa begitu (dituntut maksimal), pertama karena perbuatannya sudah membuat korban meninggal dunia. Kedua, terdakwa pernah dihukum dan sudah inkrah perkaranya, dulu itu perkara pencurian dalam keadaan memberatkan. Ini jadi pertimbangan jaksa kenapa menuntut secara maksimal,” tambahnya.
Pada Rabu (7/6) diagendakan sidang lanjutan dengan agenda pembacaan pledoi. Sidang digelar cepat karena Tukul masih masuk kategori usia anak.
Sebelumnya diberitakan, Tukul didakwa dengan pasal berlapis. Pada sidang perdana yang digelar Rabu (31/5) itu, jaksa mendakwa Tukul melanggar Pasal 76C juncto Pasal 80 ayat 3 UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2022 tentang Perlindungan Anak. Ia juga dijerat Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan.
“Dakwaannya itu didakwa dengan dakwaan kesatu, Pasal 76C juncto Pasal 80 Ayat 3 UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2022 tentang Perlindungan Anak, kemudian dakwaan kedua, perbuatan anak melawan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 338 KUHPidana,” kata pejabat Humas PN Kota Bogor Daniel Mario.
Tukul sempat buron sekitar 2 bulan usai membacok pelajar di simpang Pomad Bogor. Usai aksi brutalnya membacok pelajar menggunakan golok besar (gobang), Tukul sempat berpindah-pindah kota.
Tukul sempat mendatangi seorang dukun di Cianjur setelah membacok pelajar kelas X SMK Bina Warga Kota Bogor, Aria Saputra, pada Jumat (10/3) lalu. Tukul meminta bantuan spiritual dari dukun agar tidak tertangkap polisi.
“Pelaku ini ke Cianjur setelah dari Bogor. Ketemu dukun berharap tidak bisa tertangkap. Kemudian lanjut ke Terminal Kampung Rambutan Jakarta, kemudian menuju Yogyakarta,” kata Kapolresta Bogor Kota Kombes Bismo Teguh Prakoso saat menggelar jumpa pers di Mapolresta Bogor Kota, Jumat (12/5).
Tukul lalu memilih melarikan diri ke Yogyakarta karena menurutnya biaya hidup yang lebih murah. Untuk mengelabui polisi, Tukul mengganti namanya menjadi Dian.
“Pelaku di Yogya sempat tidur di terminal-terminal, masjid-masjid, dan mengganti namanya jadi Dian. Mengaburkan namanya agar tidak dikenal sebagai ASR,” beber Bismo.
“Di sana dia menjadi pengamen, upaya bertahan hidup. Lalu kerja di warung mi,” tambahnya.
Upaya meminta bantuan dukun gagal. Tukul ditangkap Tim Buser Polresta Bogor Kota saat melayani pembeli di sebuah rumah makan.
“Saat diringkus baru 3 hari bekerja di warung makan, ditangkap saat melayani pembeli. Awalnya dia pengamen, terus dia ngelamar di warung makan, akhirnya diterima,” kata Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota Kompol Rizka Fadhila.

Polisi menunjukkan golok gobang yang dipakai pelaku untuk membacok pelajar di simpang Pomad Bogor.
Rizka menyebut Tukul melarikan diri ke Yogyakarta bermodal uang hasil penggelapan. Uang teman-temannya untuk pelunasan biaya pembuatan seragam kelompok, dibawa kabur untuk biaya hidup.
“Kenapa dia bisa lari ke Yogyakarta itu karena dia punya uang dan uang itu hasil menggelapkan uang temennya juga. Itu uang untuk bayar seragam, sebesar Rp 1 juta. Seragam kelompok dia itu, iya semacam geng,” kata Rizka.
“Kalau soal ke Cianjur, dia datang siang lalu sore pulang lagi. Jadi dia memang di Cianjur itu ada guru spiritual. Terkait kejadian ini, dia ke sana minta bantuan secara spiritual agar tidak tertangkap. Tapi akhirnya tetap kita tangkap juga,” tambahnya. (Red)
