Berita Nasional
Kemhan Kerahkan Koas Unhan, Bantu Medis Korban Banjir–Longsor di Sumatera

Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, menginstruksikan pengerahan tenaga medis koas Universitas Pertahanan (Unhan) sebagai dukungan cepat penanganan korban banjir dan longsor di Sumatera. Langkah ini ditempuh sebagai respons darurat untuk memperkuat layanan kesehatan di tengah situasi krisis.
Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan akan menerjunkan tenaga medis magang atau koas dari Universitas Pertahanan (Unhan) ke wilayah terdampak banjir dan longsor di Pulau Sumatera. Langkah ini merupakan respons cepat guna memperkuat pelayanan kesehatan pada masa darurat, sekaligus memastikan korban bencana mendapat pertolongan sedini mungkin.
Instruksi langsung disampaikan Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, kepada Rektor Unhan dalam rapat internal yang digelar di lingkungan Kemhan. “Arahan Menhan Sjafrie merupakan bentuk dukungan cepat untuk memperkuat layanan kesehatan di daerah bencana,” ujar Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Kolonel Arm Rico Ricardo Sirait, melalui keterangan resmi, Ahad, 30 November 2025.
Sebuah video yang beredar di publik memperlihatkan Sjafrie tengah menelpon pihak Unhan guna membahas pengerahan tenaga koas. Pembicaraan itu terjadi saat Sjafrie sedang melakukan kunjungan kerja di Aceh, Sabtu, 29 November 2025, ketika daerah tersebut masih berada dalam tekanan berat dampak bencana alam.
Rico menyatakan, hingga kini pihaknya belum merinci jumlah tenaga medis yang akan diberangkatkan, karena masih dalam proses finalisasi dan menyesuaikan kebutuhan lapangan. Namun yang pasti, penugasan akan dilakukan di wilayah dengan beban layanan kesehatan yang meningkat tajam akibat kondisi darurat.
Proses penempatan tenaga medis Unhan akan dikoordinasikan melalui sinergi lintas lembaga, melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kesehatan, dan pemerintah daerah. “Pelaksanaannya menyesuaikan kebutuhan dan kesiapan operasional masing-masing lokasi,” jelas Rico.
Menurutnya, pihak Unhan bergerak sebagai tenaga pendukung, bukan pengambil alih tugas layanan kesehatan yang sudah berjalan. “Kehadirannya bersifat membantu dan melengkapi kapasitas daerah, terutama ketika beban layanan meningkat akibat situasi darurat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala BNPB Suharyanto menegaskan penanganan darurat saat ini diprioritaskan pada pencarian dan pertolongan korban, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pembukaan akses wilayah terisolasi, serta percepatan distribusi logistik melalui darat maupun udara.
Memasuki hari ketiga status tanggap darurat di Sumatera Utara, BNPB mencatat 166 orang meninggal dunia, dengan lonjakan 60 korban jiwa dalam 24 jam terakhir, hasil operasi tim gabungan yang dipimpin Basarnas. Selain itu, 143 orang masih dinyatakan hilang.
“Sumut sekarang menjadi 166 jiwa meninggal. Dalam satu hari ini bertambah 60 korban jiwa berkat operasi pencarian oleh tim gabungan yang dipimpin Basarnas. Ada 143 jiwa yang masih hilang,” kata Suharyanto, Ahad (30/11), dikutip dari Antara.
Di Aceh, pada hari kedua pasca penetapan status tanggap darurat, jumlah korban meninggal tercatat 47 orang, 51 orang hilang, dan delapan orang luka-luka.
“Ini akan berkembang terus datanya, karena operasi SAR gabungan kemungkinan akan terus menemukan korban,” jelasnya.
Sementara itu di Sumatera Barat, hari kedua masa tanggap darurat, dilaporkan 90 korban jiwa meninggal, 85 orang hilang, dan 10 orang luka-luka, dengan kabupaten Agam mencatat korban tertinggi.
Pengerahan koas Unhan dinilai menjadi bukti kehadiran negara, khususnya sektor pertahanan, dalam memperkuat penanganan kesehatan di tengah situasi kritis ketika kapasitas daerah mulai kewalahan menghadapi lonjakan kebutuhan medis.
Dengan medan berat, keterisolasian wilayah, dan angka korban yang terus meningkat, langkah Kemhan ini diharapkan menjadi tenaga penguat bagi tim medis, sukarelawan, dan lembaga kebencanaan dalam menyelamatkan lebih banyak nyawa di masa darurat.















You must be logged in to post a comment Login