BREAKING NEWS
Program Susu Gratis Prabowo-Gibran, Ratusan Peternak Sapi Perah Blitar Tak Setuju

Peternakan sapi perah (Dok. Istimewa)
BLITAR – Berita Patroli – Ratusan peternak sapi perah Blitar tidak setuju dengan program pembagian susu gratis yang diwacanakan oleh Prabowo-Gibran. Menurut peternak, program susu gratis tersebut justru bakal menimbulkan permasalahan baru, serta merusak pasar yang sudah terbangun.
Apalagi Capres-Cawapres nomor urut 2 berencana melakukan impor 1,5 juta ekor sapi perah untuk memenuhi kebutuhan program pembagian susu gratis untuk masyarakat. Upaya menggenjot produksi susu dengan impor sapi perah, menurut peternak tidak akan berjalan mulus dan justru bakal menimbulkan permasalahan baru.
“Selama ini sapi perah yang impor ke Indonesia merupakan KW 3, sehingga pasti kurang maksimal, dan ketika impor maka harus ada dulu perbaikan di berbagai lini mulai dari kandang, peningkatan SDM, hingga lahan untuk pakan yang harus mencukupi,” kata Didik Setiawan, peternak sapi perah Blitar, Kamis (18/1/2024).
Didik sendiri tergabung di dalam koperasi peternak sapi perah Semen, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Di Koperasi tersebut ada 700 peternak sapi perah yang tergabung. Rata-rata per peternak memiliki 8-10 ekor sapi.
Selama ini produksi susu dari peternak sapi perah di Blitar ini diserap oleh Nestle. Harga jualnya pun masih relatif tinggi yakni Rp7.300 per liter.
Dengan adanya wacana impor sapi untuk para peternak justru khawatir jika nantinya produksi susu melimpah dan tidak terserap maksimal maka akan merusak harga pasar. Selain itu, impor sapi perah juga bakal menjadi celah untuk terjadinya korupsi jika tidak direncanakan secara baik.
“Sebenarnya programnya bagus, tapi harus punya perencanaan yang matang, jangan nanti justru impor sapi perah menimbulkan banyak orang masuk penjara. Sebetulnya mending dilakukan peningkatan SDM dan produksi sapi perah di peternak,” imbuhnya.
Peternak Blitar sendiri mengakui bahwa saat ini produksi susu tengah mengalami penurunan. Data yang dimiliki, tingkat produktivitas susu segar di Indonesia turun dari 20 persen menjadi 13 persen.
Namun demikian, pemecahan masalahnya bukan dengan impor. Menurut peternak, solusi terbaiknya adalah peningkatan SDM dan kemampuan beternak.
“Kalau impor dilakukan produksi susu banyak, terus susu melimpah tidak terserap maksimal maka hukum pasar akan berjalan, otomatis itu (harga akan jatuh),” imbuhnya.
Didik dan ratusan peternak di Blitar pun memilih beternak mandiri ketimbang dicampuri rencana-rencana impor sapi perah ataupun program susu gratis. Sebab selama ini para peternak sapi perah di Blitar berjuang sendiri tanpa ada kepedulian dari pemerintah.
“Lebih baik mandiri daripada dicampuri dan diintervensi ini itu, malah morat marit nanti. Biarkan kami hidup dan berjuang sendiri saja,” tutupnya.
(Red)















You must be logged in to post a comment Login