Berita Nasional
Tiga Prajurit TNI Gugur dalam 48 Jam di Lebanon, PBB Sebut Serangan Bisa Masuk Kejahatan Perang

Dalam dua hari terakhir, tiga prajurit TNI gugur saat bertugas di Lebanon Selatan.
Serangan terhadap konvoi dan markas United Nations Interim Force in Lebanon menunjukkan situasi yang masih rawan.
Pemerintah Indonesia meminta penjelasan dan penyelidikan penuh.
BERITA PATROLI – JAKARTA
Tiga prajurit TNI gugur dalam dua hari berturut-turut saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon Selatan bersama United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Serangan mematikan ini memicu kecaman keras dari dunia internasional dan Pemerintah Indonesia.
Dua prajurit TNI dilaporkan tewas pada Senin (30/03) setelah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di wilayah dekat Bani Hayyan. Ledakan tersebut menghancurkan kendaraan yang mereka tumpangi dan melukai personel lainnya.
Sehari sebelumnya, Minggu (29/03), satu prajurit TNI lainnya, Praka Farizal Rhomadhon, gugur akibat serangan artileri yang menghantam markas kontingen Indonesia di Adshit al-Qusyar, Lebanon Selatan.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, memastikan dua prajurit tambahan telah gugur dalam insiden terbaru. “Dua prajurit TNI dilaporkan gugur,” tegasnya.
PBB: Ini Bisa Termasuk Kejahatan Perang
Kepala Operasi Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada Indonesia.
“Penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target,” tegas Lacroix.
Ia menegaskan, serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat diterima dan berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang. Saat ini, investigasi tengah dilakukan untuk mengungkap pelaku dan penyebab insiden.
Korban Luka dan Evakuasi Darurat
Selain korban jiwa, tiga prajurit lainnya mengalami luka:
- Praka Rico Pramudia (luka berat)
- Praka Bayu Prakoso (luka ringan)
- Praka Arif Kurniawan (luka ringan)
Korban luka berat telah dievakuasi menggunakan helikopter ke Rumah Sakit St. George di Beirut, sementara dua lainnya dirawat di fasilitas medis UNIFIL.
Jenazah Praka Farizal saat ini disemayamkan di markas sektor timur UNIFIL, sembari menunggu proses pemulangan ke Indonesia dengan bantuan KBRI Beirut.
Pemerintah Indonesia mengecam keras serangan ini. Melalui Kementerian Luar Negeri, Indonesia mendesak investigasi menyeluruh dan transparan.
Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan pentingnya deeskalasi konflik.
“Meminta investigasi penuh dari UNIFIL dan mendesak semua pihak menahan diri untuk mencegah eskalasi,” ujarnya.
Desakan Tarik Pasukan Menguat
Di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon Selatan, muncul desakan agar Indonesia mengevaluasi keterlibatan militernya.
Anggota DPR, Dave Laksono, meminta pemerintah mempertimbangkan penarikan pasukan TNI dari Lebanon.
“Ada baiknya dilakukan evaluasi, bahkan penarikan pasukan demi keselamatan prajurit kita,” tegasnya.
Misi Perdamaian di Tengah Zona Perang
UNIFIL sendiri merupakan misi perdamaian yang dibentuk sejak 1978 oleh Dewan Keamanan PBB untuk menjaga stabilitas di Lebanon Selatan. Saat ini, lebih dari 8.000 personel dari hampir 50 negara terlibat dalam misi tersebut.
Namun, insiden ini kembali menegaskan satu hal pahit, pasukan perdamaian pun kini tak lagi aman di tengah konflik bersenjata yang terus memanas.
(Red)















You must be logged in to post a comment Login