Berita Nasional
Ini Saksi-saksi dalam Sidang Gugatan Kasus Kekerasan Seksual di Sekolah SPI
Surabaya, Berita Patroli – Sidang lanjutan gugatan pemilik sekolah SPI di Batu, JE, terhadap Kapolda Jatim kembali digelar. Sidang kali ini agendanya pembuktian dan pemeriksaan saksi-saksi.
Sidang dipimpin oleh Hakim Martin Ginting di ruang Candra Pengadilan Negeri Surabaya. Ada sekitar 5 saksi yang dihadirkan dalam sidang. Salah satunya teman sekolah korban kekerasan seksual, yakni Udila Wati.
Dalam keterangannya, Dila mengatakan pertama kali bertemu dengan JE di Bandara Juanda pada 2010. Saat itu, ia dan siswa lainnya akan mengadakan kegiatan sekolah di Singapura yang ditemani 4 guru dan kepala sekolah.
Di Singapura, lanjut Dila, para siswa tinggal di sebuah apartemen selama 7 hari. Sedangkan untuk kamar dipisahkan berdasarkan masing-masing jenis kelamin.
“Kita tidur itu kamarnya terpisah. Jadi kalau siswa putra sama pembina dan guru-guru itu kamar sendiri. Putra sendiri, kita putri sendiri. Karena waktu itu ada Bu Risna yang juga ikut, jadi kita satu kamar sama Bu Risna,” kata Udila, Selasa, (18/1/2022).
Saat ditanya apakah mengetahui terkait pencabulan yang dilakukan JE, Dila menjelaskan, mulai menjadi siswa SPI sejak 2008. Namun ia mengaku tidak mengetahuinya adanya pencabulan terhadap teman satu angkatannya itu.
“Selama saya di sana (SPI), dari 2008 hingga saat ini, tidak pernah melihat, tidak pernah mendengar adanya pelecehan seksual,” kata Dila.
Selain alumnus SPI, dalam sidang juga dihadirkan Risna Amalia Ulfa, kepala sekolah. Dalam keterangannya, Risna mengaku mulai mengabdi di SPI pada tahun 2007 hingga kini.
“Tahun 2009 sampai 2015 sebagai kepala asmara, dan alhamdulillah di tahun 2015 sampai sekarang diangkat sebagai kepala sekolah,” tutur Rsna.
Ia mengaku, selama di SPI tidak pernah mendengar atau mendapat laporan terkait pencabulan. Jika pun ada, Risna mengaku pasti sudah melaporkannya ke pihak yayasan atau yang berwenang.
“Kalau misalnya ada, pasti saya laporkan itu ke ketua yayasan, Pak Sendi. Atau ke sekuriti dan bila diperlukan akan saya laporkan ke polisi,” terang Risna.
Dalam kesempatan ini, Risna menyebut, JE merupakan pencetus sekolah. Sedangkan penyokong dana dari banyak orang. Sekolah SPI saat ini di bawah yayasan yang dipimpin Sandy Fransiskus Kartono.
Menurutnya, sejak gencar pemberitaan dugaan kasus pencabulan di sekolah SPI, pihaknya sempat mendapat panggilan Kemendiknas. Panggilan itu dimaksudkan untuk memeriksa sejumlah saksi terkait kebenaran berita.
Hasilnya, lanjut Risna, Kemendiknas menyimpulkan tidak ada kasus pencabulan atau pemerkosaan yang gencar diberitakan media massa.
“Selama 10 hari SPI diperiksa. Pemanggilan saksi-saksinya pun dilakukan secara acak. Rangkuman dan Dirjen Kemendiknas dinyatakan, jangankan pemerkosaan, isu pencabulan saja tidak ada. Hasilnya pada tanggal 8 Desember 2020, SPI terakreditasi A dengan nilai 91,” tutur Risna.
Sebelumnya, JE melakukan gugatan praperadilan terhadap Kapolda Jatim. JE merupakan tersangka kasus dugaan kekerasan seksual belasan anak didiknya.
JE melayangkan gugatan karena menilai penetapannya sebagai tersangka tidak sah. Gugatan JE terdaftar dalam nomor 1/Pid.Pra/2022/PN Sby. Gugatan itu didaftarkan pada Rabu 5 Januari 2022.
