Berita Nasional
AKBP Memo Ardian, S.I.K., M.H., Kasat Reskoba Restabes Surabaya di Fitnah Peras Tersangka Rp 2 Milliar
Berita Patroli, Surabaya – Siapa yang tidak kenal dengan Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Memo Ardian, S.I.K., M.H., Alumnus Akademi Kepolisian 2002 Batalyon WL Wicaksana Laghawa, kiprahnya sangat ditakuti para bandar besar narkoba baik dikota Surabaya atau dijajaran bandar – bandar dan para Mafia pemilik barang haram tersebut, apalagi satuannya belum lama ini berhasil ungkap 100 kg narkoba jenis sabu – sabu, dan berhasil menembak mati terduga pemilik barang tersebut, ada istilah, semakin tinggi pohon menjulang, terpaan angin akan kencang. itulah sekarang yang dialami sosok perwira santun ini.
Belum lama ini satuannya diserang beberapa oknum yang mengaku sebagai wartawan dari media online, yang mengatakan Satuan Reskoba melakukan perbuatan cela, memeras bandar narkoba sebesar Rp 2 milliar. Entar kabar angin yang dihembuskan untuk kontra intel atas keberhasilan satuan Reskoba Surabaya yang telah berhasil berulangkali menggulung jaringan narkoba. Untuk menegaskan kebenaran info yang simpang siur melalui beberapa media AKBP Memo angkat bicara.
Terkait berita yang beredar di media online tentang tersangka dikuras Rp 2 miliar. Polemik ini muncul setelah satuan kami berhasil menangkap pelaku peredaran narkotika sejumlah 100 kg sabu- sabu jaringan antar pulau hingga jaringan Internasional.

Ket : Didi Sungkono, S.H., M.H.
“Dari hasil ungkap kasus tangkapan jumlah besar dari tim, kami sudah memprediksi bahwa akan ada banyak tekanan yang berkaitan dengan kelompok jaringan narkotika dari berbagai penjuru kota, provinsi maupun negara,” beber AKBP Memo.
Menurut Memo, pemberitaan itu tidak benar, karena seperti terkait dengan kasus penangkapan VNN yang pabrik terjadi di Bandung. Ada namanya Kristin dan kawan-kawan.
“Hasil dari menangkap jaringan yang besar, pasti dicari celahnya. Sejumlah 7 juta pil koplo, pemasoknya, ekspedisinya, dan ada beberapa orang yang dilakukan tindakan tegas terukur karena melawan, sekarang sudah proses dan diliput oleh media nasional,” urainya.
Lanjut Memo, “Ada beberapa jaringan dan ada 1 jaringan yang dilakukan upaya penangkapan. Selama ini kita melakukan upaya penangkapan tanpa meminta uang apalagi menguras uang.
“Kita melakukan secara profesional, uang penyidikan saya 1 bulan itu kalau di range nilainya Rp 1,3 miliar,” terangnya.
Masih dengan Memo, “Kenapa saya memblokir orang-orang ini yang mengatasnamakan media. Takutnya banyak mafia kasus yang berkaitan dengan narkotika. Seperti berkaitan dengan atens, UU kesehatan, dan kewenangan kita disitu.”
“Kita pernah mengamankan alat bukti sangat penting dari keterangan saksi kunci. Jika saat kami melakukan penyidikan, tidak cukup bukti, kita tidak akan memaksa,” tambahnya.
Disinggung soal keterkaitan dengan uang, Memo menjelaskan, itu tidak benar sama sekali. Kenapa ia diam, karena tidak kenal. Dan tidak perlu menjawab orang yang tidak ia kenal. Apalagi dengan ulah orang yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
“Kenapa sekarang saya menjawab konfirmasi berita yang beredar, karena rekan media yang konfirmasi datang ke kami adalah rekan media yang bisa dipertanggung jawabkan,” ungkapnya.
“Selain itu, jika saya menjawab dengan orang yang tidak saya kenal akan menjadi celah untuk menjadi target. Kami pun akan analisa tim, kami segera melakukan analisis dan evaluasi (Anev),” ujarnya.
“Sepertinya, ada yang membiayai dari pemberitaan yang beredar. Satresnarkoba Polrestabes Surabaya akan melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti dan diungkap di Pengadilan,” tambahnya.
Untuk berita yang beredar adalah fitnah dan tuduhan yang tidak benar karena menuduh tanpa bukti dan mendzolimi orang. Satresnarkoba Polrestabes Surabaya akan menuntut media yang mencemarkan nama baik Polri.
“Dengan adanya ungkap kasus narkoba 100 kg sabu ini, memicu banyak orang untuk mencari celah, kita akan ungkap tuntas,” ungkap perwira santun calon Kapolres ini.
Menanggapi perkembangan pemberitaan yang diduga fitnahz Advokat Didi Sungkono dari LBH Rastra Justitia789 angkat bicara, “Kawan – kawan wartawan harus cerdas dalam menyajikan berita, jangan hanya katanya. Buktikan kebenarannya, ada pengakuan dari nara sumber, ada beberapa fakta hukum yang harus dipenuhi, 5 W + 1 H jangan pernah terlewati. Wartawan adalah fungsi kontrol sesuai amanat UU PERS No 40 tahun 1999, ada kode etik jurnalistik yang harus dipenuhi, biar beritanya tidak menuduh dan mendzolimi orang. Kalau memang benar tuduhan tuduhan yang dialamatkan ke pejabat itu benar, silahkan ungkap tuntas, tapi kalau hanya kabar burung yang tidak jelas nara sumbernya, sekali lagi cek dan ricek. Mari kita jaga ke profesionalan kita dalam mengemban profesi ini, mari kita bantu aparat penegak hukum untuk memerangi peredaran barang haram ini, karena ini adalah musuh kita, musuh bangsa dan negara. Kalau tidak kita perangi secara bersama sama, kita bisa putus generasi bangsa,” Uuar Advokat yang sekarang menyelesaikan program Doktor Ilmu Hukum ini. @tim (Arinta/wawan/andrijanto/khamim)
