Connect with us

Berita Patroli

Berita Patroli

BREAKING NEWS

Anak SD Gantung Diri karena Tak Mampu Beli Buku, Negara Datang Setelah Nyawa Melayang

SURAT TERAKHIR SEORANG ANAK, Ini bukan sekadar tulisan tangan bocah SD. Ini adalah vonis moral atas kemiskinan yang dibiarkan.Seorang anak memilih mati karena buku tulis dan pena tak mampu dibeli sementara negara sibuk berbicara anggaran, program, dan pencitraan.
Ia meminta ibunya tak menangis. Padahal yang seharusnya malu dan menangis adalah negara.
Jika surat ini tak mengguncang nurani penguasa, maka tragedi serupa hanya tinggal menunggu korban berikutnya.

SURAT TERAKHIR SEORANG ANAK, Ini bukan sekadar tulisan tangan bocah SD. Ini adalah vonis moral atas kemiskinan yang dibiarkan.
Seorang anak memilih mati karena buku tulis dan pena tak mampu dibeli sementara negara sibuk berbicara anggaran, program, dan pencitraan.
Ia meminta ibunya tak menangis. Padahal yang seharusnya malu dan menangis adalah negara.
Jika surat ini tak mengguncang nurani penguasa, maka tragedi serupa hanya tinggal menunggu korban berikutnya.

BERITA PATROLI – JAKARTA

Tragedi memilukan yang menewaskan seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuka borok kegagalan negara dalam melindungi hak dasar anak atas pendidikan dan kesejahteraan. Anak yang seharusnya dilindungi justru mengakhiri hidupnya karena tak sanggup membeli buku tulis dan pena, peralatan paling mendasar dalam sistem pendidikan.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto akhirnya memberi atensi khusus atas tragedi ini. Melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Presiden memerintahkan koordinasi lintas kementerian agar peristiwa memalukan yang mencoreng wajah negara ini tidak terulang.

“Bapak Presiden menaruh atensi dan meminta kami berkoordinasi agar ke depan kejadian seperti ini bisa dicegah,” ujar Prasetyo Hadi di Istana Kepresidenan, Rabu (4/2).

Namun fakta di lapangan jauh lebih kejam. Seorang anak SD ditemukan tewas tergantung di dahan pohon cengkeh, tak jauh dari pondok reyot tempat ia hidup bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun, sebuah potret nyata kemiskinan ekstrem yang luput dari radar negara.

Ironisnya, sebelum mengakhiri hidup, bocah itu meninggalkan sepucuk surat tulisan tangan dalam bahasa daerah Ngada yang ditujukan kepada ibunya. Isinya menyayat nurani, ia meminta sang ibu merelakan kepergiannya, tidak menangis, tidak mencari, dan tidak merindukannya. Di bagian akhir surat, terdapat gambar menyerupai emoji wajah menangis, jeritan terakhir anak kecil yang merasa tak punya tempat di negeri ini.

Dari hasil penyelidikan kepolisian, terungkap bahwa sebelum kejadian korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pena. Permintaan sederhana itu gagal dipenuhi karena sang ibu tak memiliki uang. Inilah titik paling gelap dari tragedi ini, anak Indonesia mati bukan karena perang, bukan karena bencana alam, tetapi karena kemiskinan yang dibiarkan.

Ibunda korban, MGT (47), mengaku kondisi ekonomi keluarganya sangat terbatas. Malam sebelum kejadian, korban sempat menginap di rumah ibunya. Pagi harinya sekitar pukul 06.00 WITA, ia diantar kembali ke pondok neneknya dengan ojek. Nasihat terakhir yang mampu diberikan sang ibu hanyalah agar anaknya tetap rajin bersekolah, sebuah ironi pahit di tengah negara yang gembar-gembor program bantuan pendidikan.

Pemerintah menyatakan telah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Sosial untuk menangani keluarga korban serta mengevaluasi data penerima bantuan sosial. Namun pertanyaan publik jauh lebih keras, ke mana negara sebelum anak ini mati? Mengapa keluarga miskin ekstrem bisa luput dari perlindungan, sementara anggaran pendidikan dan bansos digelontorkan triliunan rupiah setiap tahun?

Tragedi Ngada bukan sekadar kasus individual. Ini adalah alarm keras kegagalan sistemik, tentang data kemiskinan yang bermasalah, bantuan sosial yang tak tepat sasaran, dan negara yang baru hadir setelah nyawa melayang.

Jika peristiwa ini berlalu tanpa perubahan nyata, maka kematian anak ini bukan sekadar tragedi, melainkan tuduhan paling kejam terhadap negara yang abai pada masa depan anak-anaknya sendiri.

(Tomy)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in BREAKING NEWS

To Top