Connect with us

Berita Patroli

Berita Patroli

JATIM

Diduga Lalai, SPPG Bendosari Bagikan Buah Berulat ke Siswa SD

Buah yang seharusnya menjadi sumber Vitamin, justru ditemukan dalam kondisi berulat di Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bendosari.

Buah yang seharusnya menjadi sumber Vitamin, justru ditemukan dalam kondisi berulat di Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bendosari.

BERITA PATROLI – TULUNGAGUNG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang semestinya menjadi harapan peningkatan gizi masyarakat, justru berubah menjadi skandal memalukan di SDN 3 Desa Bendosari, Kecamatan Ngantru. Pada Senin (27/4/2026), warga dibuat geram setelah menemukan buah-buahan yang dibagikan kepada siswa dalam kondisi busuk dan dipenuhi ulat.

Temuan ini pertama kali diungkap oleh sejumlah orang tua murid yang merasa khawatir dengan kualitas makanan yang dikonsumsi anak-anak mereka. Salah satu warga berinisial B bahkan menunjukkan bukti langsung buah yang sudah tidak layak makan.

“Ini bukan sekadar tidak segar, tapi sudah berulat. Sangat berbahaya kalau sampai dikonsumsi anak-anak,” ujarnya dengan nada kesal.

Kasus ini langsung mendapat perhatian dari Lembaga Perlindungan Konsumen Republik Indonesia (LPK-RI). Penasehat LPK-RI, Gus Edi Al Ghoibi, turun langsung ke lokasi untuk memastikan kebenaran laporan tersebut.

“Sangat miris. Program yang seharusnya meningkatkan gizi malah berpotensi menjadi sumber penyakit. Ini jelas kelalaian serius,” tegasnya.

Ketua LPK-RI, Parmonangan Sirait, juga melontarkan kritik keras. Ia menilai adanya kegagalan dalam sistem pengawasan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bendosari.

“Ini kecerobohan fatal. Bagaimana mungkin buah berulat bisa lolos dari proses quality control hingga sampai ke tangan siswa? Ini bukan hal sepele,” ujarnya.

Menurutnya, lemahnya pengawasan dalam rantai distribusi pangan telah merugikan masyarakat, khususnya para siswa sebagai penerima manfaat utama program MBG. Hak anak-anak untuk mendapatkan makanan sehat dinilai telah diabaikan.

LPK-RI pun mendesak dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengadaan dan distribusi bahan pangan di wilayah Ngantru. Pengawasan ketat dinilai wajib dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola program MBG maupun SPPG Bendosari. Sementara itu, kekecewaan warga terus menguat.

“Kami tidak butuh janji. Kami butuh kepastian bahwa makanan yang diberikan kepada anak-anak kami aman dan layak konsumsi,” tegas salah satu orang tua.

Kasus ini menjadi peringatan keras bahwa program bantuan pangan tidak hanya soal distribusi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab besar terhadap kesehatan masyarakat, kelalaian sekecil apa pun bisa berujung pada risiko besar, terutama bagi anak-anak.

(Aris, Hadi, Tomy)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in JATIM

To Top