Connect with us

Berita Patroli

Berita Patroli

Hukum dan Kriminal

Teror Jalanan Berkedok Perguruan Silat, Gangster Gresik Beraksi di Dua Kecamatan

Warga terluka, pelaku berkelompok, senjata tajam dibawa terang-terangan. Ini alarm bahaya atas lemahnya pengawasan dan penindakan terhadap kegiatan yang mengatasnamakan kelompok. Kasat Reskrim Polres Gresik menyebut jelas, "kekerasan berkedok perguruan adalah kejahatan".
Publik kini menagih tindakan nyata bukan klarifikasi, bukan alasan dan janji, tapi penindakan sampai ke aktor utama. Negara tidak boleh lemah dan kalah oleh gangster.

Warga terluka, pelaku berkelompok, senjata tajam dibawa terang-terangan. Ini alarm bahaya atas lemahnya pengawasan dan penindakan terhadap kegiatan yang mengatasnamakan kelompok.
Kasat Reskrim Polres Gresik menyebut jelas, “kekerasan berkedok perguruan adalah kejahatan”.
Publik kini menagih tindakan nyata bukan klarifikasi, bukan alasan dan janji, tapi penindakan sampai ke aktor utama. Negara tidak boleh lemah dan kalah oleh gangster.

BERITA PATROLI – GRESIK

Aksi brutal gangster bersenjata tajam kembali meresahkan masyarakat, sekelompok gangster yang berlindung di balik nama perguruan silat menebar teror di dua kecamatan di Kabupaten Gresik. Tak hanya melukai warga dengan senjata tajam, mereka juga melakukan pencurian dengan kekerasan secara membabi buta.

Polisi mengungkap, kelompok tersebut telah beraksi di Kecamatan Dukun dan Kecamatan Panceng, dengan korban mengalami luka serius akibat sabetan golok.

“Ada dua lokasi kejadian, di Kecamatan Dukun dan Kecamatan Panceng yang viral itu,” tegas Kasat Reskrim Polres Gresik AKP Arya Widjaya, Selasa (6/1/2026).

Dalam aksinya, sekitar 20 orang gangster melakukan konvoi sambil membawa golok dan linggis, menjadikan jalanan sebagai arena teror. Di lokasi pertama, korban mengalami luka bacok. Sementara di lokasi kedua, korban kembali disabet senjata tajam hingga menderita luka menganga selebar 8 sentimeter.

“Ini bukan sekadar konvoi. Ini aksi kekerasan terbuka di ruang publik,” ujar Arya.

Lebih mengejutkan, dalih perbedaan atribut perguruan silat ternyata hanya kedok kejahatan. Fakta di lapangan menunjukkan para pelaku melakukan perampasan terhadap siapa pun yang mereka temui, tanpa pandang bulu.

“Handphone korban dirampas, handphone penjual nasi goreng dirampas. Bahkan pembeli nasi goreng yang warga biasa juga dirampas HP-nya. Ini murni begal, sangat meresahkan,” tegas Arya.

Aksi ini menjadi bukti nyata bagaimana kekerasan jalanan kini disamarkan atas nama perguruan, mencoreng nilai-nilai bela diri dan membahayakan nyawa masyarakat.

Atas situasi yang kian mengkhawatirkan, Kapolres Gresik AKBP Rovan Richard Mahenu mengambil langkah tegas dengan membentuk tim khusus untuk memburu dan memberantas kelompok gangster yang berkeliaran bebas di wilayah Gresik.

“Otak pelaku masih kami buru. Ini tidak boleh dibiarkan,” kata Arya.

Sebelumnya, polisi telah mengamankan enam terduga anggota gangster, lima di antaranya masih di bawah umur. Fakta ini kembali menyoroti lemahnya pengawasan serta bahaya normalisasi kekerasan di kalangan remaja.

“Dalam konvoi ada sekitar 20 orang, tidak semuanya melakukan penganiayaan. Lima anak ini hanya ikut konvoi,” jelas Arya.

Meski demikian, polisi menegaskan pengejaran terus dilakukan terhadap para pelaku utama, termasuk aktor intelektual yang menggerakkan konvoi brutal tersebut.

“Pelaku yang melakukan penganiayaan dan perampasan, termasuk otak pelaku, masih dalam pengejaran,” pungkasnya.

Kasus ini menjadi peringatan keras, ketika kekerasan dibiarkan, jalanan berubah menjadi medan kejahatan, dan warga sipil menjadi korban. Negara dituntut hadir, tanpa kompromi terhadap gangsterisme dan kekerasan bersenjata.

(Tomy, Arinta, Agus.N, Norita, Dwi)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Hukum dan Kriminal

To Top