Connect with us

Berita Patroli

Berita Patroli

Uncategorized

Pihak St Louis 1 Di Nilai Tidak Tegas Terhadap Pelatih Basket Yang Di Duga Arogan Terhadap Anak Didiknya Yang Masih Di Bawah Umur.

Pelatih team bola basket St Louis 1 Surabaya yg di duga arogan dan terkenal temperamental terhadap anak didiknya yang masih di bawah umur.

Berita Patroli – Surabaya

Gempar atas bocornya rekaman kekerasan verbal serta munculnya dugaan kekerasan fisik yang berujung adanya luka psikis terhadap para siswa-siswi SMA papan atas yang terletak di jalan M. Yasin Polisi Istimewa surabaya, Sekolah ini sejak dulu memang telah yang terkenal sebagai pencetak bibit unggul para pemain basket di jawa timur.

Sosok pelatih basket yang di duga keras telah melakukan perbuatan arogan tersebut konon berasal dari kota blitar dan menurut sumber yang dapat di percaya yang bersangkutan bergabung di SMA ini sejak tahun 2019 hingga sekarang ulahnya terkenal sangat temperamental, arogan sering juga ketika anak didiknya tidak fit fisiknya justru muncul kata – kata kotor yang tidak selayaknya di ucapkan oleh seorang guru atau pelatih.

Namun perhatian publik kini bergeser ke arah lain tentang sikap pihak sekolah yang dinilai janggal, defensif, dan penuh kemarahan yang lebih condong melindungi sang pelatih basket yang terkesan melakukan pembiaran dan hal ini tentu berpotensi munculnya kegaduhan yang meluas di kalangan para orang tua wali murid.

Di sisi lain Dalam pernyataan resminya, pihak sekolah dengan tegas menyebut bahwa “tidak ada satu pun pengaduan dari siswa maupun orang tua” terkait dugaan kekerasan verbal fisik maupun psikis.

Foto viral sang pelatih bola basket St Louis 1 Surabaya.

Seharusnya pihak sekolah lebih tenang dan kooperatif, terutama wakil pimpinan sekolah yang justru menaikkan nada suaranya, serta menuduh para wartawan yang hanya meminta klarifikasi malah di tuduh sebagai suruhan club sekolah lain yang notabenenya sebagai kompetitornya.

Tentu reaksi yang berlebihan ini memicu spekulasi bahwa persoalan yang terjadi sebenarnya bukan sekadar perilaku satu pelatih saja namun munculnya gejala dari budaya pembiaran yang telah berlangsung lama dan terus menerus.

Hal ini di nilai bertolak belakang dari hasil rekaman sang pelatih basket saat marah – marah membentak dan menghardik dengan kata – kata yang tidak terpuji kepada anak didiknya.

Sementara Komunitas basket remaja di Surabaya, sudah lama mendengar berita dan rumor mengenai sikap temperamental pelatih tersebut, dan mempertanyakan sikap dan keputusan pihak sekolah yang tetap mempertahankannya di tengah sorotan dan tuntutan publik agar yang bersangkutan mundur dan di ganti.

Di jumpai di beberapa klub basket mengaku heran mengapa dan kenapa pihak sekolah tampak lebih sibuk menjaga reputasi dibanding menjaga dan menjamin keselamatan para siswa siswi terutama dalam hal tumbuh kembang kejiwaan anak di bawah umur, karena nyata sikap dan perbuatan pelatih tersebut telah melanggar undang-undang perlindungan anak dan konfensi internasional anak atas kekerasan fisik dan psikis.

Anehnya Jika tidak ada kekerasan, mengapa respons pihak sekolah justru sebaliknya seperti institusi merasa tertekan padahal faktanya kekerasan verbal fisik dan psikis telah berlangsung lama dan sepertinya telah menjadi budaya? Jika keselamatan siswa adalah prioritas, mengapa pelatih yang berada di tengah polemik tetap dibiarkan melatih? Ada apa???

Sejumlah pemerhati pendidikan menyebut bahwa fenomena seperti ini kerap muncul pada institusi yang terlalu fokus pada prestasi, dan mengutamakan peran bisnis pendidikan semata sampai-sampai kekerasan dianggap metode pelatihan yang normal dan terbiasa. Padahal Mereka menegaskan bahwa kemenangan tidak boleh menjadi alasan menutup mata terhadap perilaku yang melanggar etika dan hak anak. Hal ini juga bisa di anggap telah melanggar UU no 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak.

Kini perhatian publik tertuju pada Dinas Pendidikan dan Perbasi, dua lembaga yang dinilai wajib turun tangan untuk memastikan tidak ada budaya kekerasan yang dibungkus sebagai “disiplin”.

Hingga berita ini diterbitkan, sekolah belum memberikan klarifikasi tambahan soal alasan di balik reaksi keras mereka, dan belum mengambil tindakan preventif terhadap pelatih yang diduga terlibat. ( Tomi, Nourita, Arinta, Agus N )

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Uncategorized

To Top