BREAKING NEWS
Agenda Sidang Saksi, Pengakuan Pegawai BPPD Sidoarjo “Tak Pernah Berikan Potongan Insentif untuk Gus Muhdlor”

Sidang dugaan kasus pemotongan dana insentif ASN BPPD Sidoarjo di Pengadilan Tipikor Surabaya
SURABAYA – Berita Patroli
Mantan Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor (Gus Muhdlor) menjalani sidang dugaan kasus pemotongan dana insentif ASN BPPD Sidoarjo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, Senin (21/10/2024).
Dalam agenda saksi, terungkap fakta-fakta mengejutkan. Sebanyak 22 saksi dihadirkan dari bidang Pajak Daerah (PD) I BPPD Sidoarjo yang insentifnya turut dipotong. Termasuk Kepala Bidang (Kabid) dan staf.
“Penggunaan detail (potongan insentif, red) tidak tahu. Yang saya tahu untuk keperluan kantor, untuk makan-makan, untuk dana tambahan jalan-jalan, untuk oleh-oleh,” ujar saksi Hermadi Listiawan.
Ia mengaku, penggunaan uang pemotongan insentif untuk keperluan terdakwa Gus Muhdlor atau Ari Suryono tak diketahuinya. Para saksi juga tak mengetahui asal penetapan besaran potongan insentif.
Awalnya seluruh saksi diinformasikan oleh mengenai adanya pemotongan insentif, bahwa uangnya digunakan untuk memberi gaji pegawai honorer yang tidak ditanggung oleh APBD.
Selain itu, seluruh saksi juga kompak menjawab, mereka tidak pernah dikumpulkan oleh para Kabid untuk membahas mengenai pemotongan insentif tersebut.
Sebagian dari mereka mengetahui adanya pemotongan insentif dari kitir yang diedarkan, serta ada yang diberi tahu melalui obrolan personal.
Diketahui, pemotongan insentif tersebut sudah dilakukan sejak Kepala Badan BPPD Sidoarjo Joko Santosa. Para saksi kompak menjawab, tidak ada yang keberatan dengan adanya pemotongan insentif tersebut.
“Ada pemotongan insentif sejak 2019, 2020 kalau tidak salah. Saat almarhum Bapak Joko Santosa masih menjabat. Waktu itu dikumpulkan beberapa orang saja, dibilangin Pak Sumbar, nanti kalau terima insentif ada sodaqohnya untuk menggaji honorer,” ucap saksi, Sintya Nur Afriani.
Sementara itu, saksi, Abdul Muthalib mengaku pemotongan isentif itu diperintah oleh mantan Kassubag Umum dan Kepegawaian Siska Wati. Uang potongan yang disebut untuk kepentingan sedekah dan keperluan kantor itu dikumpulkan di Siska Wati.
Terdakwa Gus Muhdlor memberi pertanyaan kepada seluruh saksi, “Pernah tidak semua saksi menghadap saya? Pernah tidak hubungan dengan saya? Ada tidak disini yang pernah ngasih uang saya? Pernah tidak saya masuk kantor BPPD Sidoarjo ketemu dengan Ari Suryono dan Siska Wati?,” tanya Gus Muhdlor.
“Tidak pernah,” 22 saksi menjawab dengan kompak.
Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK, Rikhi BM menegaskan, pihaknya menghadirkan 22 saksi dari bidang PD I BPPD Sidoarjo.
“Para PD I memang tidak tahu kemana uang hasil pemotongan, jadi mereka dipotong uangnya dibilang untuk keperluan kantor. Kabid bilang tidak pernah diajak rapat,” ujar Rikhi.
Dijelaskannya, uang insentif yang didapatkan pegawai BPPD Sidoarjo, seharusnya berdasarkan penilaian dari Kabid. Namun Kabid membantah, mereka tidak pernah dilibatkan dalam penilaian.
(Tim)
