Razia
Bisnis Prostitusi Online di Icon Apartemen kota Santri Gresik Dibongkar Polisi

Dok. Polres Gresik
GRESIK – Berita Patroli – Praktik esek-esek terselubung di Kota Santri Gresik dibongkar polisi. Polisi menggerebek prostitusi di Icon Apartemen, Gresik. Prostitusi ini bertarif Rp 600 ribu.
Kasat Reskrim Polres Gresik AKP Aldhino Prima Wirdhan mengatakan, terbongkarnya kasus prostitusi online tersebut berawal dari informasi masyarakat. Setelah melaukan penelusuran terkait kebenaran informasi tersebut, polisi akhirnya melakukan penggerebekan praktik prostitusi itu pada Senin (30/10/2023) malam.
“Ada informasi bahwa marak prostitusi di Icon Apartemen Gresik. Jadi kita lakukan penyelidikan,” kata Aldhino kepada tim media, Selasa (31/10/2023).
Aldhino menambahkan, setelah mendapatkan informasi, Unit Tipidter melakukan pengecekan ke lokasi. Polisi lantas mengamankan 5 wanita yang berada di apartemen tersebut. Salah satunya merupakan muncikari.
“Ada 5 orang yang kita amankan. Salah satunya merupakan muncikari atau maminya,” tambah Aldhino.
Aldhino menjelaskan, kelima wanita tersebut berinisial SN, RR, DW, SA, dan NV. Dalam menjalankan bisnis tersebut, mereka menggunakan aplikasi MiChat untuk mencari pelanggan.
“Jadi muncikari berinisial NV ini mencari pelanggan melalui MiChat. Setelah deal harganya, ia menjemput tamu di lobi, terus membawanya ke apartemen,” jelas Aldhino.
Saat digerebek, polisi mendapati dua wanita yang sedang melayani pria hidung belang. Sementara dua lainnya sedang menunggu pelanggan di kamar lainnya bersama muncikari NV.
“Dua di antaranya sedang melayani tamu. Sementara dua lainnya menunggu di kamar. Saat ini masih didalami dan masih melakukan penyelidikan,” pungkas Aldhino.
Selama ini, muncikari berinisial NV menjajakan wanita kepada para pelanggannya melalui MiChat dengan harga Rp 600 ribu sekali kencan.
Aldhino menjelaskan, sang mucikari memasang tarif open BO (bo0king order) melalui media MiChat seharga Rp 600 ribu. Namun, harga tersebut bisa ditawar.
“Mereka ditawarkan Rp 600 ribu, tapi biasanya setelah pelanggan menawar Rp 300 sampai 400 ribu, mereka terima. Setelah deal harganya melalui aplikasi MiChat, pelanggannya bertemu di lobi apartemen kemudian diantarkan ke kamar korban itu, ” jelas Aldhino.
Aldhino menambahkan, NV menerima setoran dari anak buahnya. Setelah itu, wanita asal Jawa Barat ini menyetor uang tersebut kepada muncikari yang ada di atasnya berinisial MK.
“Jadi perannya NV ini selain muncikari, juga sebagai kasir. Setelah mendapat setoran, NV menyerahkan uangnya ke MK, muncikari di atasnya lagi yang saat ini masih DPO,” jelas Aldhino.
Kepada polisi, para wanita yang dijajakan mengaku menyetorkan uang sebesar Rp 3 juta setelah melayani 42 tamu. Setiap selesai melayani tamu, mereka dibayar Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu setiap satu kali main.
“Uang tersebut dikasihkan NV selaku muncikari dan mendapatkan gaji per minggu sekitar Rp 3 juta. Itu jika mencapai target 42 tamu,” tambah Aldhino.
NV telah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan penyediaan bisnis prostitusi. Dari kasus tersebut, polisi mengamankan alat kontrasepsi, buku catatan kerja, uang sebesar Rp 8,6 juta, dan 4 buah handphone.
“Kita juga sudah memasang garis polisi di apartemen bernomor A 941. Untuk kasus prostitusi online ini kita masih lakukan pendalaman untuk mengungkap muncikari di atasnya,” tegas Aldhino.
Pihak manajemen Icon Apartemen Gresik mengaku tidak mengetahui terkait bisnis prostitusi online tersebut.
“Yang pasti kita tidak pernah memfasilitasi atau mendukung prostitusi, kriminalitas dan hal-hal negatif lainnya,” kata Building Manager Icon Apartement Gresik, Wisnu Kusuma Wardana kepada tim media, Selasa (31/10/2023).
Wisnu menambahkan pihaknya selama ini tidak mengetahui kegiatan ataupun aktivitas di dalam kamar apartemen. Sebab, setelah serah kunci, tanggung jawab apartemen sepenuhnya adalah pemilik apartemen itu sendiri.
“Jadi kalau di apartemen ini, kita telah memberlakukan pengawasan secara ketat terhadap penyewa Apartemen. Apalagi kita sudah memberikan batas kepada pemilik apartemen agar menyewakan minimal 3 bulan untuk penyewaan apartemen,” kata Wisnu.
Meski demikian, ia tak ingin hal terjadi terulang kembali. Apalagi melihat Gresik yang mendapat julukan Kota Santri.
“Nanti ke depan kita akan tingkatkan keamanan salah satunya dengan menggunakan sidik jari dalam lift atau pengawasan tambahan. Agar selain para pemilik atau penyewa nantinya hanya bisa menggunakan sidik jari untuk naik ke apartemennya menggunakan lift,” tambah Wisnu.
(Red)
