Internasional
Hapus Status Kewarganegaraan Paulus Tannos, KPK Minta Bantuan Kemenlu Lobi Negara di Afrika

Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu mengungkapkan DPO kasus korupsi e KTP Paulus Tannos mengantongi dwi kewargenagaraan, Jumat (11/8/2023).
Jakarta – Berita Patroli – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan, akan meminta salah satu di negara Afrika Selatan menghapus status kewarganegaraan buron atau daftar pencarian orang (DPO) kasus e KTP, Paulus Tannos.
Paulus disebut menyandang kewarganegaraan ganda dan mengantongi paspor dari salah satu negara di Afrika Selatan.
“(Paulus Tannos) sekarang menjadi buronan, diminta untuk di sana kewarganegaraannya dicabut kembali,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu kepada wartawan, Senin (14/8/2023).
Asep mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi Direktorat Pembinaan Kerja Antar Komisi dan Instansi (PJKAKI) KPK untuk meminta bantuan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Melalui perwakilan pemerintah, KPK meminta negara di Afrika Selatan itu mencabut status kependudukannya karena Paulus Tannos merupakan pelaku tindak pidana.
“Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri akan meminta kepada pemerintahan di negara yang mengeluarkan paspor tersebut,” ujarnya.
Dia mengatakan, saat ini proses komunikasi untuk meminta negara terkait mencabut status kewarganegaraan Paulus Tannos masih berlangsung. Sebab, KPK baru mengetahui buron tersebut mengantongi nama dan paspor baru beberapa bulan lalu.
“Kemudian kita sudah mengusulkan kembali diterbitkannya red notice dengan nama yang baru,” tutur Asep.
Sebelumnya, KPK menyebut Paulus Tannos mengantongi dua kewarganegaraan dan berganti identitas. Ia juga diduga tengah berupaya mencabut status kewarganegaraan Indonesia.
Untuk diketahui, pada awal tahun lalu, Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Karyoto mengungkapkan, pihaknya bisa menangkap Paulus Tannos di Thailand jika saja red notice dari Interpol tidak terlambat terbit.
Pada Jumat (27/1/2023), Ali mengatakan bahwa red notice itu terlambat karena Paulus Tannos berganti nama menjadi Thian Po Tjhin.
Hal ini membuat KPK harus mencari tersangka korupsi itu dengan identitas baru Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra tersebut. Adapun perusahaan Paulus Tannos terlibat dalam pengadaan proyek e-KTP yang merugikan negara triliunan rupiah. (Red)
