Connect with us

Berita Patroli

Internasional

Banyak Kota Mati, Pengembang Utang Ribuan Triliun.. “Bukti Krisis Properti China”

Foto: Tianducheng kota mati di China

CHINA – Berita Patroli –  Krisis properti di China makin menjadi-jadi. Setelah mengalami property bubble di mana banyak kelebihan pasokan kini dua pengembang properti besar nasibnya di ujung tanduk.

Pada masa keemasan, China jor-joran membangun dan mengembangkan properti-properti baru. Namun hal itu malah jadi bumerang bagi negara tersebut.

Pengamat menyebut, pemerintah China terlalu ambisius dalam membangun proyek properti. Akibatnya, kini puluhan kota menjadi kota mati karena sepi penghuni. Jumlahnya belum diketahui secara pasti, ada yang bilang lebih dari 50 kota, ada juga yang menyebut bahkan sampai 80 kota.

Hal ini bermula saat China tengah mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat. Pemerintah bermaksud untuk menyediakan hunian bagi penduduk yang dalam waktu bersamaan pertumbuhan jumlahnya juga tak kalah pesat.

Salah satu tujuannya adalah untuk mendistribusikan kembali peluang ekonomi yang telah menarik jutaan penduduk pedesaan ke kota-kota pesisir. Tetapi para pengamat percaya bahwa rencana pembangunan pemerintah yang terlalu ambisius itu bisa menjadi bumerang.

Kangbashi adalah salah satu contoh yang paling nyata. Kota ini awalnya direncanakan untuk menjadi distrik perkotaan yang ramai di kota Ordos di Mongolia Dalam, dibangun menggunakan keuntungan yang mengalir dari booming industri batu bara.

Pembangunan seluas 90.000 hektar terletak tepat di tepi Gurun Gobi yang luas. Pembangunan ini mencakup banyak perlengkapan seperti alun-alun bernuansa kolosal, pusat perbelanjaan yang luas, kompleks komersial dan perumahan yang besar, dan gedung-gedung pemerintah yang menjulang tinggi.

Harapannya, fasilitas ini akan menarik penumpang dari Dongsheng terdekat dan membantu menampung dua juta penduduk Ordos.

“Ini adalah tempat yang bagus, dengan gedung-gedung modern, alun-alun megah, dan banyak tempat wisata,” kata Yang Xiaolong, petugas keamanan yang bekerja di salah satu gedung perkantoran baru Kangbashi, kepada South China Morning Post. “Begitu ada lebih banyak orang dan bisnis, kota akan lebih hidup.”

Tetapi distrik yang direncanakan untuk menampung lebih dari satu juta orang saat ini menampung kurang dari 100.000, dan masih kurang dari setengah jalan menuju tujuan distrik untuk menampung 300.000 orang pada tahun 2020. Terlepas dari semua upaya mereka, gedung pencakar langit dan bangunan tempat tinggal Kangbashi tetap kosong termasuk jalan-jalannya.

Beberapa orang percaya bahwa kota hantu China yang muncul karena terlalu bersemangatnya pemerintahannya bersifat sementara. Mereka berpendapat bahwa kelebihan konstruksi ini akan terbayar untuk China dalam jangka panjang, karena negara tersebut terus mengalami pertumbuhan ekonomi.

Pemandangan ribuan bangunan kosong bukanlah satu-satunya hal yang ditinggalkan oleh kota-kota hantu China. Modal besar yang mendukung perkembangan ini sebagian besar didanai oleh utang negara yang menggelembung, dan para ahli berpendapat hanya masalah waktu sebelum utang itu meledak.

Lebih buruk lagi, ada juga masalah melonjaknya biaya properti yang terkait dengan perumahan yang dibeli tetapi tidak dihuni, yang dapat menimbulkan bencana bagi kaum muda China yang ingin menjadi pemilik rumah.

Belum selesai masalah tersebut, kini muncul masalah baru. Dua raksasa properti di China yaitu Evergrande dan Country Garden kesulitan membayar utang ribuan triliun. Evergrande bahkan mengumumkan bangkrut setelah tak mampu membayar utang yang jumlahnya mencapai US$ 330 miliar atau sekitar Rp 4.950 triliun.

Sementara Country Garden kini tengah terseok-seok mengejar jatuh tempo pembayaran utang yang jumlahnya mencapai US% 191,7 miliar atau sekitar Rp 2.875 triliun.

Pemerintah China pun kelabakan. Mereka langsung bergerak cepat mendinginkan situasi dan berharap peristiwa ini tak berdampak pada sektor ekonomi lain.

Pemerintah meyakinkan para investor dan dunia usaha bahwa efek yang ditimbulkan dari peristiwa ini tak akan berdampak serius kepada sektor lain.
(Red)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Internasional

To Top