Hukum dan Kriminal
Raup Keuntungan Rp 840 Juta, 5 Tahun Jual BBM Palsu

Foto: Pemain Pertalite palsu di OKI ditangkap, jadi tersangka migas.
Palembang – Berita Patroli – Dua pria pemain BBM palsu menyerupai Pertalite di Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, DS (38) dan HA (49) ditangkap polisi. Selama 5 tahun beraksi, keduanya berhasil meraup untung Rp 840 juta.
“Kedua pelaku ini kita tangkap karena terlibat pemalsuan dan penjualan BBM palsu menyerupai Pertalite,” ungkap Wadirreskrimsus Polda Sumsel AKBP Putu Yudha Prawira di Palembang, Kamis (20/7/2023).
Kasubdit Tipidter Polda Sumsel AKBP Tito Dani mengatakan, dalam aksinya DS dan HA telah membuat Pertalite palsu dengan cara mencampurkan minyak sulingan asal Musi Banyuasin (Muba) dengan zat kimia dan pewarna buatan.
“Sehingga hasil pemalsuan yang dilakukan pelaku ini sangat mirip sekali seperti Pertalite asli,” kata Tito.
Minyak sulingan atau minyak ilegal asal Muba itu, katanya, mereka beli seharga Rp 1,3 juta perdrumnya dan disimpan di gudang beralamat di Desa Pedamaran IV, Kecamatan Pedamaran, OKI.
Lalu, setelah dipalsukan di gudang itu layaknya Pertalite, minyak itu mereka jual lagi Rp 7.000 perliter. “Mereka jual setelah dipalsukan itu Rp 7.000 perliter,” katanya.
Menurutnya, kedua pelaku ditangkap saat digerebek petugas tengah melakukan kegiatan pemalsuan tersebut pada Selasa (18/7/2023) dini hari sekitar pukul 00.25 WIB.
Dari penangkapan itu, polisi juga menyita barang bukti 4 ton minyak sulingan, 1 truk berisi 2 baby tank kapasitas 1000 liter dan 20 jeriken kapasitas 30 liter kondisi kosong, 2 drum kosong, 2 drum berisi masing-masing 200 liter minyak sulingan.
Ada juga, 11 drum berisi masing-masing 200 liter minyak sulingan, 2 jeriken kapasitas 30 liter, 1 baby tank kapasitas 1000 liter, 3 toples berisi serbuk kimia, 2 botol cairan kimia, buku catatan penjualan, mesin pompa air dan 2 corong plastik.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, keduanya mengaku sudah menggeluti usaha ilegal itu selama 5 tahun. Dalam perbulan mereka meraup keuntungan 2 ton senilai Rp 14 juta. Selama 5 tahun aksi tak terendus polisi, setidaknya Rp 840 juta sudah mereka kantongi.
“Jadi selama sebulan keuntungan mereka ini sekitar 2 ton, di mana perliter mereka jual Rp 7.000,- jadi bisa dikalikan saja berapa keuntungannya, (Rp 840 juta)” kata Tito.
Atas perbuatannya, keduanya kini ditetapkan tersangka dan dijerat tentang Undang-undang yang mengatur minyak dan gas.
“Pasal 54 Undang-undang nomor 22 tahun 2001 tentang migas, sebagaimana dalam Pasal 27 ayat 1, ancaman hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp 60 miliar,” jelasnya. (Red)
