Razia
Penggerebekan Lokasi Pembuatan Pestisida Palsu di Blitar, Setelah 1 Tahun Beroperasi

Gelar perkara kasus pestisida oplosan di Polres Blitar, Jawa Timur, Jumat (28/7/2023).
BLITAR – Berita Patroli – Polres Blitar mengungkap kasus penjualan pestisida palsu yang diramu dari campuran berbagai macam pestisida dengan air.
Kasat Reskrim Polres Blitar AKP M Gananta mengatakan pengungkapan kasus itu bermula dari aduan masyarakat yang mengeluhkan obat pembasmi rumput liar yang dibelinya tak ampuh dipakai.
Bukannya rumput mati, malahan bertambah subur saat dipakai.
“Ada laporan masyarakat tentang tentang obat pembasmi rumput liar yang seharusnya untuk mematikan rumput ternyata malah membuat rumput subur,” kata Gananta di Blitar, Jumat (28/7/2023).
Pihaknya kemudian melakukan penyelidikan dan mencurigai pestisida untuk pembasmi rumput tersebut palsu. Akhirnya kasus itu terungkap setelah polisi menggerebek lokasi produksi pestisida oplosan di Desa Jeblog, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar.
Polisi kemudian meringkus satu pelaku berinisial MF (22), yang merupakan warga Desa/Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Blitar. Modus yang dilakukan, pelaku membeli pestisida berbagai merek. Kemudian dicampur dengan bahan kimia lainnya serta air dan ditaruh kembali ke botol-botol.
“Dia membeli pestisida dioplos, dicampur. Dari hasil pemeriksaan, tersangka ini sudah satu tahun melakukan aksinya,” ujarnya.
Dalam satu botol obat pertanian asli dioplos dengan air sumur dan dikemas lagi menjadi tiga sampai empat botol obat pertanian palsu.
Botol-botol tersebut kemudian diberi stiker obat pertanian merek tertentu dan dijual. Obat-obat pertanian palsu tersebut dijual dengan harga lebih terjangkau mulai Rp40 ribu hingga Rp70 ribu per botol.
Barang-barang tersebut dijual di wilayah Blitar dan kota-kota di sekitarnya. Dalam aksinya, pelaku dibantu empat orang pekerja. Sehari, mereka bisa memproduksi hingga 20 karton yang masing-masing karton berisi 12 botol pestisida palsu.
Selain menahan pelaku, polisi juga menyita ratusan botol obat-obatan pertanian dengan berbagai merek.
Saat ini, seluruh barang bukti juga sudah diamankan. Polisi akan menjerat MF dengan Pasal 123 jo Pasal 75 huruf b, UU Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan dengan ancaman hukuman maksimal tujuh tahun penjara.
(Red)
