Hukum dan Kriminal
Eks PMI Ilegal di Sumsel Ditangkap, “3 Tahun Bisnis Perdagangan Orang”

Foto: Tampang penyalur PMI Ilegal di Lubuklinggau. (Foto Dok Polres Lubuklinggau).
Lubuklinggau – Berita Patroli – Sulastri (50), wanita di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, ditangkap polisi karena menampung dan menyalurkan PMI ilegal. Kegiatan itu digelutinya selama 3 tahun berdasarkan ilmu yang ia dapat selama menjadi PMI ilegal di wilayah perbatasan Batam, Kepulauan Riau.
“Iya benar pelaku yang kita tangkap ini merupakan penyalur tenaga kerja ilegal ke luar negeri,” kata Kasat Reskrim Polres Lubuklinggau AKP Robby Sugara, Senin (19/6/2023).
Pengungkapan bermula, saat anggota Pidum dan PPA Polres Lubuklinggau dapat informasi ada rumah di Kelurahan Lubuk Tanjung, Lubuklinggau Barat 1, yang diduga digunakan sebagai tempatnya penampungan PMI ilegal yang bakal diberangkatkan pelaku.
“Kita pun mencoba menyelidiki dengan saksi yang berpura-pura ingin dapat disalurkan bekerja ke Malaysia oleh pelaku. Setelah sepakat pelaku meminta saksi agar menunggu untuk dijemput,” kata Kanit Pidum Polres Lubuklinggau Iptu Jemmy Amin, dikonfirmasi wartawan terpisah.
Setelah bertemu, pelaku membawa saksi ke tempat penampungan tersebut. setelah saksi sudah berada di dalam rumah penampungan milik pelaku, polisi langsung menggerebek pelaku, Jumat (16/6). Pelaku berikut para saksi korban diamankan.
“Saat kita gerebek pelaku langsung diamankan tanpa perlawanan. Di lokasi kita juga menemukan dua saksi lain yang sudah lebih kurang satu minggu (di penampungan), rencananya juga akan diberangkatkan pelaku,” katanya.
Setelah diamankan dan diperiksa intensif, pelaku mengakui melakukan bisnis ilegal itu sudah 3 tahun. Dia mendapat ilmu tersebut karena sebelumnya pernah menjadi PMI ilegal beberapa tahun silam.
“Pengakuannya baru 3 tiga tahun ini, dulunya dia pernah bekerja sebagai PMI Ilegal, di daerah Batam sana, dan di sanalah dia mempelajari ‘jalan tikus’ cara menjadi penyalur tenaga kerja yang melanggar aturan,” katanya.
Karena tak dapat menunjukkan legalistas perusahaan penyalur resmi tenaga kerja, Sulastri pun ditetapkan tersangka.
Sejumlah bukti pun disita seperti, 15 dokumen berupa fotokopi warna terkait Badan Usaha PJKTI, formulir dan dokumen yang berkaitan dengan penyalur tenaga kerja, Hp, kartu identitas korban, tas dan pakaian korban, ATM dan buku tabungan, serta spanduk promosi lowongan pekerjaan.
“Tersangka kita tahan, kita jerat tentang tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara sebagaimana pasal 2 UU RI nomor 21 tahun 2007,” jelasnya. (Red)
