Berita Nasional
Jumlah Penduduk Miskin Terbanyak di Indonesia, NTT Masuk dalam Lima Besar
Berita Patroli NTT – Badan Pusat Statistik mencatat pada bulan Maret 2020, terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin sebanyak 1,63 juta orang dibandingkan periode September 2019. Sebagian besar penduduk miskin tersebut, masih berada di Pulau Jawa dengan jumlah 14,05 juta orang.
Sedangkan, jumlah penduduk miskin terendah ada di Pulau Kalimantan sebanyak 969.640. Sementara, Provinsi NTT masuk dalam kategori lima besar jumlah penduduk miskin terbanyak.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto menjelaskan hal tersebut kepada awak media dalam video conference, belum lama ini.
“Penduduk miskin di Pulau Sumatera 5,84 juta, Bali dan Nusa Tenggara 2,03 juta, Sulawesi 2 juta, Maluku dan Papua 1,52 juta. Dengan demikian total penduduk miskin pada Maret 2020 berjumlah 26,42 juta,” jelas Suhariyanto
Dia menambahkan, jumlah dan persentase penduduk miskin terbanyak berdasarkan provinsi per Maret 2020 yakni
1. Jawa Timur 4,42 juta jiwa (11,09 persen)
2. Jawa Tengah 3,98 juta jiwa (11,41 persen)
3. Jawa Barat 3,92 juta jiwa (7,9 persen)
4. Sumatera Utara 1,28 juta jiwa (8,75 persen) dan
5. Nusa Tenggara Timur/NTT 1,15 juta jiwa (20,90 persen).
Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda, Marius Ardu Jelamu mengatakan, angka kemiskinan seperti yang diumumkan BPS adalah hal yang sangat wajar. Dia merasa tak heran jika wilayah NTT masuk dalam lima besar jumlah penduduk miskin terbanyak di Indonesia. Sebab, begitu banyak faktor yang membuat jumlah penduduk miskin di NTT terus bertambah.
“Pandemi virus corona baru atau Covid-19, kata dia, menjadi salah satu penyebab ekonomi stagnan dan tak bertumbuh. Belanja pemerintah juga stagnan karena anggaran lebih banyak dialokasikan untuk penanganan Covid-19,” imbuhnya.
Selain itu, jelas Marianus, sebagian besar masyarakat NTT juga berada di rumah selama pandemi Covid-19. Banyak sektor, khususnya ekonomi, berhenti beraktivitas.
“Petani, nelayan, dan peternak, juga terkena dampak Covid-19. Apalagi, virus flu babi Afrika juga menyerang ternak warga akhir-akhir ini,”
Pada masa tatanan normal baru, ungkap Marianus, Pemprov NTT berusaha memulihkan ekonomi yang terpuruk selama pandemi Covid-19. Salah satu caranya, menurut Dia, dengan mendorong masyarakat untuk kembali membuka usaha mereka, meski belum maksimal.
“Sejumlah program telah dibuat, seperti menanam padi 10.000 hektar di 17 kabupaten di NTT. Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat.
Ada pula, usaha garam dan rumput laut yang sedang dikembangkan. Termasuk juga pariwisata kita mulai membuka walaupun masih perlahan tapi kita sudah memulainya,” kata Marius.
Pihaknya berkomitmen akan berusaha bangkit, mendongkrak dan memperbaiki semua sektor yang selama ini tertinggal. (Kristiano)
